Pemicu Lonjakan Harga Barang Sepanjang Juli 2026

Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:22:49 WIB
ilustrasi inflasi. ( sumber : net )

JAKARTA - Harga beragam komoditas dan jasa yang dikonsumsi masyarakat masih memperlihatkan tren peningkatan pada bulan ketujuh tahun 2026.

Kendati secara bulanan terjadi penurunan harga, secara tahunan atau year-on-year negara ini masih mencatatkan inflasi sebesar 2,88 persen.

Informasi dari Badan Pusat Statistik memperlihatkan inflasi tahunan tersebut menjadikan Indeks Harga Konsumen naik menjadi 111,73 dari 108,60 pada bulan yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, secara bulanan, negara ini mengalami deflasi sebesar 0,14 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,65 persen.

Di balik angka inflasi tersebut, terdapat sejumlah kategori pengeluaran serta komoditas yang menjadi penggerak utama kenaikan harga.

Mulai dari bahan pangan, sektor perhubungan, hingga logam mulia perhiasan sama-sama memberikan andil terhadap inflasi nasional.

Hampir seluruh kategori pengeluaran mencatatkan kenaikan.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan terjadi sebab seluruh kategori pengeluaran mengalami kenaikan tarif.

Kategori makanan, minuman, serta tembakau mencatatkan inflasi sebesar 2,97 persen.

Kategori pakaian serta alas kaki mencatatkan inflasi 1,04 persen, sementara kategori perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga naik 0,99 persen.

Selain itu, kategori perlengkapan, peralatan, serta pemeliharaan rutin rumah tangga mencatatkan inflasi 1,72 persen.

Kategori kesehatan naik 1,96 persen, kategori perhubungan 5,12 persen, kategori informasi, komunikasi, serta jasa keuangan 1,50 persen, kategori rekreasi, olahraga, serta budaya 1,58 persen, kategori pendidikan 1 persen, kategori penyediaan makanan serta minuman atau restoran 2,55 persen, serta kategori perawatan pribadi serta jasa lainnya melonjak hingga 9,04 persen.

Walau kategori perawatan pribadi serta jasa lainnya mencatatkan tingkat inflasi paling tinggi, bukan berarti kategori tersebut menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi nasional.

Besarnya sumbangan juga ditentukan oleh bobot masing-masing kategori dalam pengeluaran keluarga.

Pangan masih menjadi kontributor inflasi terbesar.

Berdasarkan data dari Sumbernya, kategori makanan, minuman, serta tembakau menjadi kontributor inflasi terbesar, yakni sebesar 0,87 persen terhadap inflasi tahunan nasional.

Sementara itu, kategori perhubungan menyumbang 0,62 persen, kategori perawatan pribadi serta jasa lainnya 0,61 persen, kategori penyediaan makanan serta minuman atau restoran 0,25 persen, kategori perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga 0,15 persen, serta kategori lainnya memberikan sumbangan yang lebih kecil.

Besarnya kontribusi kategori makanan memperlihatkan bahwa perubahan harga bahan pangan masih menjadi salah satu elemen utama yang memengaruhi inflasi di dalam negeri.

Ikan segar hingga minyak kelapa sawit menjadi pemicu inflasi.

Jika diamati berdasarkan jenisnya, sejumlah bahan pangan masih mendominasi faktor pemicu inflasi.

Badan Pusat Statistik mencatatkan komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain ikan segar, minyak goreng, beras, daging ayam ras, cabai merah, serta daging sapi.

Di samping bahan pangan, produk tembakau juga turut mendorong inflasi melalui kenaikan harga sigaret kretek tangan, sigaret kretek mesin, serta sigaret putih mesin.

Di luar kategori makanan, kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, bahan bakar minyak, tarif angkutan udara, kendaraan roda dua, kendaraan roda empat, pelumas mesin, telepon genggam, komputer jinjing, biaya kuliah akademi maupun perguruan tinggi, nasi berlauk, hingga logam mulia perhiasan turut memberikan sumbangan terhadap inflasi tahunan.

Sebaliknya, beberapa komoditas justru membantu menahan laju inflasi.

Bawang merah, tomat, telur ayam ras, cabai rawit, kelapa, daging babi, serta biaya sekolah tingkat atas tercatat menjadi kontributor penurunan harga secara tahunan.

Harga bahan pangan masih berperan besar terhadap inflasi.

Pada kategori makanan, minuman, serta tembakau, inflasi tahunan mencapai 2,97 persen dengan sumbangan terhadap inflasi nasional sebesar 0,87 persen.

Di dalam kategori ini, ikan segar menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar sebesar 0,22 persen.

Selepas itu disusul minyak goreng sebesar 0,14 persen, beras sebesar 0,13 persen, sigaret kretek mesin sebesar 0,08 persen, daging ayam ras sebesar 0,07 persen, cabai merah sebesar 0,05 persen, serta daging sapi dan sigaret kretek tangan masing-masing sebesar 0,04 persen.

Di sisi lain, bawang merah, tomat, telur ayam ras, cabai rawit, kelapa, serta daging babi menjadi komoditas yang memberikan andil terhadap penurunan harga pada kategori ini.

Walau secara tahunan masih mengalami inflasi, kategori makanan justru mencatatkan deflasi secara bulanan sebesar 0,26 persen.

Penurunan harga bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, jeruk, ikan segar, semangka, serta sawi hijau menjadi elemen utama yang menekan inflasi pada bulan tersebut.

Sektor perhubungan terdorong kenaikan harga bahan bakar.

Kategori perhubungan menjadi kategori dengan inflasi tahunan terbesar kedua selepas perawatan pribadi, yakni mencapai 5,12 persen.

Kategori ini memberikan andil sebesar 0,62 persen terhadap inflasi nasional.

Badan Pusat Statistik mencatatkan kenaikan harga bahan bakar minyak menjadi kontributor utama inflasi kategori perhubungan dengan andil 0,31 persen.

Selepas itu diikuti tarif angkutan udara sebesar 0,15 persen, serta pelumas mesin, kendaraan roda dua, dan kendaraan roda empat yang masing-masing menyumbang 0,03 persen.

Sementara secara bulanan, kategori perhubungan masih mengalami inflasi sebesar 0,06 persen, meskipun penurunan tarif angkutan udara memberikan andil terhadap deflasi pada bulan tersebut.

Logam mulia perhiasan mendominasi kategori perawatan pribadi.

Kategori perawatan pribadi serta jasa lainnya mencatatkan inflasi paling tinggi dibandingkan kategori pengeluaran lainnya, yakni mencapai 9,04 persen.

Kategori ini memberikan sumbangan sebesar 0,61 persen terhadap inflasi nasional.

Menurut Badan Pusat Statistik, logam mulia perhiasan menjadi komoditas yang paling dominan mendorong inflasi dalam kategori tersebut dengan andil sebesar 0,53 persen.

Namun, secara bulanan harga logam mulia perhiasan justru menjadi kontributor penurunan harga terbesar pada kategori ini.

Restoran serta pendidikan ikut naik.

Kategori penyediaan makanan serta minuman atau restoran mengalami inflasi tahunan sebesar 2,55 persen serta memberikan sumbangan 0,25 persen terhadap inflasi nasional.

Komoditas yang paling besar mendorong kenaikan harga pada kategori ini adalah nasi berlauk.

Sementara itu, kategori pendidikan mengalami inflasi tahunan sebesar 1 persen.

Komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi adalah biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.

Sebaliknya, biaya sekolah tingkat atas menjadi komoditas yang menahan inflasi karena mengalami deflasi secara tahunan.

Secara bulanan, biaya sekolah dasar, taman kanak-kanak, serta ongkos bimbingan belajar menjadi kontributor inflasi pada kategori pendidikan.

Inflasi tahunan bulan ketujuh tahun 2026 lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Secara historis, inflasi tahunan bulan tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan rentang waktu yang sama dua tahun sebelumnya.

Pada periode tersebut, inflasi tahunan mencapai 2,88 persen.

Sebagai pembanding, inflasi tahun sebelumnya tercatat sebesar 2,37 persen, sementara pada periode yang sama dua tahun lalu sebesar 2,13 persen.

Adapun inflasi tahun kalender hingga bulan tersebut mencapai 1,65 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan rentang waktu yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 1,69 persen.

Secara teritorial, inflasi tahunan paling tinggi di tingkat wilayah provinsi terjadi di Papua Barat sebesar 5,47 persen, sementara yang paling rendah terjadi di Papua Selatan sebesar 1,46 persen.

Tags

Terkini

Bisnis Jualan Risoles Mayones & Pastel Renyah Frozen

Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:14:24 WIB

Trik Pemasaran Digital UMKM Kuliner Paling Ampuh

Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:08:56 WIB

Rekomendasi Mesin Vacuum Sealer Terbaik Skala Rumahan

Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:06:01 WIB

Standar Higienis Produksi Makanan Beku Skala Rumahan

Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:03:02 WIB

Cara Menghitung Modal Usaha Kuliner Rumahan Yang Tepat

Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:01:01 WIB