EBITDA BUMA International Naik Jadi 69 Juta Dollar AS Semester I 2026

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:00:31 WIB
Ilustrasi tambang. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) mencatat pertumbuhan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) pada semester I 2026.

Pertumbuhan EBITDA DOID terjadi di tengah penurunan pendapatan akibat berakhirnya sejumlah kontrak dan kenaikan harga bahan bakar.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026, EBITDA perseroan naik 8 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 69 juta dollar AS, dari 64 juta dollar AS pada periode yang sama tahun lalu.

Perseroan menyebut peningkatan tersebut didorong oleh pemulihan margin dan efisiensi biaya yang merupakan hasil dari berbagai inisiatif perbaikan operasional yang dijalankan sejak 2025.

Sementara itu, pendapatan turun 5 persen (YoY) menjadi 693 juta dollar AS pada semester I 2026.

Penurunan pendapatan dipengaruhi oleh berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal dan site IBP milik Resource Alam Indonesia di Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia.

Selain itu, sejumlah operasi lainnya juga mengalami penurunan aktivitas (ramp-down).

Akibat kondisi tersebut, total volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) turun 11 persen (YoY) menjadi 186 juta bank cubic meter (BCM), sedangkan produksi batu bara turun 16 persen menjadi 32 juta ton.

Meski demikian, di luar lokasi tambang yang kontraknya telah berakhir maupun mengalami ramp-down, operasi inti Grup masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 9 persen (YoY) untuk overburden removal dan 4 persen (YoY) untuk produksi batu bara.

Kinerja tersebut didukung oleh meningkatnya keandalan armada serta kondisi cuaca yang lebih kering.

Perseroan mencatat jam hujan di Indonesia turun 10 persen (YoY), sementara jumlah hari hujan di Australia berkurang 4 persen (YoY).

Di sisi lain, average selling price (ASP) jasa kontraktor pertambangan meningkat 8 persen dibandingkan semester I 2025, didorong kenaikan tarif pada kontrak rise-and-fall maupun tier-price.

BUMA International Group menyatakan peningkatan EBITDA dicapai meskipun menghadapi lonjakan harga bahan bakar sepanjang tahun berjalan.

Perseroan mengungkapkan, apabila tidak memperhitungkan dampak kenaikan harga bahan bakar, EBITDA semester I 2026 diperkirakan mendekati 78 juta dollar AS.

Pada kuartal II 2026, biaya unit per BCM meningkat 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan naik 10 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh harga bahan bakar yang naik 29 persen secara year to date (YTD).

Biaya bahan bakar per BCM meningkat 36 persen dibandingkan kuartal II 2025 dan melonjak 61 persen dibandingkan kuartal sebelumnya akibat faktor harga.

Namun, konsumsi bahan bakar per BCM justru turun 7 persen dibandingkan kuartal II 2025 dan turun 4 persen secara kuartalan karena armada mampu mengangkut volume material yang sama dengan konsumsi bahan bakar lebih rendah.

Efisiensi tersebut didukung oleh perbaikan kondisi jalan angkut dan perilaku berkendara yang lebih baik melalui pemantauan operasional yang lebih ketat.

Selain itu, dua komponen biaya yang berada dalam kendali operasional menunjukkan perbaikan.

Biaya tenaga kerja per BCM turun 7 persen dibandingkan kuartal II 2025 dan turun 13 persen dibandingkan kuartal sebelumnya sebagai dampak program efisiensi dan rasionalisasi tenaga kerja yang telah diselesaikan sepanjang 2025.

Sementara itu, biaya perbaikan dan pemeliharaan per BCM naik 11 persen dibandingkan kuartal II 2025, tetapi turun 9 persen dibandingkan kuartal sebelumnya seiring normalisasi pengeluaran pemeliharaan.

Secara operasional, Grup mencatat peningkatan keandalan armada selama kuartal II 2026.

Ketersediaan fisik (physical availability) armada meningkat baik dibandingkan kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.

Lebih dari separuh armada kini memiliki tingkat availability sebesar 90 persen atau lebih.

Waktu henti (downtime) turun 11 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan turun 22 persen dibandingkan kuartal II 2025.

Di saat yang sama, kepatuhan terhadap jadwal pemeliharaan (scheduled maintenance compliance) meningkat hampir dua kali lipat menjadi 46 persen, dibandingkan 25 persen pada kuartal II 2025.

Perseroan juga mencatat mean time between stops (MTBS) meningkat 22 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan naik 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara mean time to repair (MTTR) turun menjadi 7,5 jam atau membaik 18 persen secara kuartalan dan 6 persen dibandingkan kuartal II 2025.

Perbaikan tersebut berdampak pada utilisasi armada.

Jam kerja peralatan per unit meningkat 17 persen dibandingkan kuartal sebelumnya sehingga tingkat operasi armada kembali berada pada level yang relatif sejalan dengan kuartal II 2025.

Jam nonproduktif per unit juga turun 8 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan turun 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perseroan menyebut penurunan tersebut dipengaruhi kondisi musim kemarau yang mengurangi waktu tunggu akibat hujan dan jalan licin, serta perbaikan pada area pembuangan, jalan angkut, dan kondisi geologi.

Produktivitas turut meningkat, tercermin dari kenaikan bank cubic meter (BCM) per jam sebesar 2 persen dibandingkan kuartal II 2025.

Di lokasi tambang terbesar Grup di Indonesia, cycle time juga tercatat 4 persen lebih singkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu berkat perbaikan kondisi jalan, pengurangan antrean di area pemuatan, serta koordinasi lalu lintas dan dispatch yang lebih efektif.

Sejalan dengan peningkatan operasional tersebut, volume overburden removal Grup di Indonesia dan Australia naik 10 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 97 juta BCM.

Produksi batu bara juga meningkat 20 persen secara kuartalan menjadi 17 juta ton.

Pada semester I 2026, BUMA International Group membukukan rugi bersih sebesar 50 juta dollar AS, turun 37 persen dibandingkan rugi bersih 80 juta dollar AS pada periode yang sama tahun lalu.

Perbaikan tersebut ditopang oleh peningkatan EBITDA serta sejumlah faktor non-operasional.

Di antaranya keuntungan 12 juta dollar AS dari penjualan aset lahan Atlantic Carbon Group Inc. (ACG), penurunan depresiasi dan amortisasi sebesar 19,3 juta dollar AS, serta peningkatan keuntungan selisih kurs bersih sebesar 11 juta dollar AS.

Namun, kinerja tersebut sebagian tertekan oleh dampak negatif sebesar 14,5 juta dollar AS terkait investasi Grup di 29Metals.

Di sisi lain, belanja modal (capital expenditure/capex) turun signifikan menjadi 37 juta dollar AS dari 111 juta dollar AS pada semester I 2025.

Perseroan menyebut efisiensi capex dilakukan melalui optimalisasi armada dan pengalihan aset dari site yang telah berhenti beroperasi.

Sebagian besar belanja modal tahun ini dialokasikan untuk pemeliharaan armada.

Penurunan belanja modal ikut mendorong arus kas bebas (free cash flow) menjadi positif sebesar 39 juta dollar AS, meningkat dibandingkan 5 juta dollar AS pada semester I 2025.

Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim mengatakan, berbagai langkah perbaikan yang dilakukan selama satu tahun terakhir mulai memberikan hasil.

"Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa berbagai langkah yang telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimalisasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil, bahkan di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar yang signifikan," ujar Iwan dari Sumbernya dalam siaran pers, Senin (3/8/2026).

Menurut dia, perbaikan tersebut semakin terlihat pada kuartal II 2026 melalui peningkatan keandalan armada, produktivitas, dan volume produksi.

"Memasuki semester kedua, prioritas kami adalah melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur harga bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas," kata Iwan dari Sumbernya.

Sementara itu, intensitas emisi pada semester I 2026 turun 4 persen dibandingkan kuartal I 2026, dengan penurunan masing-masing 6 dan 7 persen di dua lokasi operasional terbesar Grup di Indonesia.

Selain itu, pendapatan dari batu bara nontermal menyumbang 20 persen dari total pendapatan Grup pada semester I 2026.

Tags

Terkini