Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Tekanan dan Gejolak Pasar Global

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:00:12 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (FOTO: NET)

JAKARTA - Pihak dari sumbernya menyatakan bahwa perekonomian nasional terus memperlihatkan daya tahan di tengah kian besarnya tekanan ekonomi dunia, yang dipicu oleh konflik geopolitik, guncangan pasar keuangan, hingga lonjakan harga energi.

Pihak dari sumbernya memaparkan, hasil pemantauan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan bahwasanya kondisi fiskal, moneter, maupun sektor keuangan dalam negeri sepanjang triwulan II 2026 masih dalam keadaan aman.

KSSK sendiri beranggotakan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"Hasil asesmen KSSK menunjukkan bahwa kondisi fisikal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan ke 2 2026 tetap terjaga di tengah konflik geopolitik yang kembali meningkat didukung koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antar otoritas, " kata dari sumbernya dalam konferensi pers hasil rapat KSSK, di kantor LPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Pihak tersebut menerangkan bahwa saat memasuki triwulan kedua, tekanan dari luar negeri kembali meningkat seiring maraknya eskalasi perselisihan geopolitik, kenaikan tarif energi, fluktuasi pasar finansial internasional, hingga tekanan atas nilai tukar serta arus modal.

Kendati demikian, perekonomian dalam negeri dinilai masih sanggup bertahan.

"Namun demikian, perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid dan ketahanan sektor keuangan yang terjaga. Dengan perkembangan tersebut, risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan perlu terus diwaspadai untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi," ujar dari sumbernya.

Pihak dari sumbernya kemudian menyoroti berbagai tantangan yang masih membayangi perekonomian dunia pada triwulan II 2026.

Menurutnya, eskalasi konflik geopolitik di wilayah terkait telah mengganggu kelancaran pasokan energi, memicu lonjakan harga minyak dan komoditas vital, sekaligus memperbesar risiko terhadap arus perdagangan serta rantai pasok global.

Kondisi tersebut turut menimbulkan tekanan inflasi pada berbagai negara dan mempersempit ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara maju.

Di pasar keuangan internasional, tingkat volatilitas juga masih tergolong tinggi.

Fenomena flight to safety kembali menguat yang terlihat dari apresiasi Dolar Amerika Serikat, peningkatan imbal hasil obligasi, serta kian meningkatnya tekanan atas arus modal di negara-negara berkembang.

Saat memasuki Juli 2026, risiko global kembali meningkat setelah tensi konflik regional kembali memanas.

Pihak dari sumbernya menyebutkan, lalu lintas pelayaran di jalur strategis yang sempat membaik setelah adanya kesepakatan damai sementara pada pertengahan Juni kembali mengalami gangguan akibat meningkatnya intensitas perselisihan pada awal Juli 2026.

Tags

Terkini