Airlangga Sebut 70 Persen Perusahaan Asing Untung Investasi di Indonesia

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:00:21 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, (FOTO: NET)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan mayoritas perusahaan luar negeri yang menanamkan modal di Indonesia mendapatkan keuntungan.

Pernyataan tersebut diutarakan berdasarkan hasil survei Japan External Trade Organization (JETRO) yang memperlihatkan prospek penanaman modal di Indonesia masih sangat menjanjikan.

Hal itu diutarakan Airlangga saat menerima Kunjungan Kehormatan Delegasi Bisnis China bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk China.

Pada kesempatan tersebut, pemerintah kembali mengajak para pelaku usaha Negeri Tirai Bambu untuk memperbesar modal, terutama pada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

"Laporan dari perusahaan agensi Jepang, JETRO, menyampaikan bahwa perusahaan asing yang investasi di Indonesia potensi mengalami atau mendapat keuntungan besarnya 70 persen. Jadi lebih banyak untung daripada yang tidak untung," jelas Airlangga dikutip dari Sumbernya, Jumat (24/7/2026).

Berdasarkan penuturan Airlangga, pemerintah terus berupaya membangun iklim penanaman modal yang kondusif lewat beragam kebijakan, termasuk penyediaan insentif fiskal yang kompetitif bagi para investor.

Langkah tersebut diharapkan dapat mendongkrak arus modal masuk sekaligus memperkokoh daya saing Indonesia di tengah persaingan global.

Kemitraan ekonomi Indonesia dan China sendiri terus tumbuh dalam kurun beberapa tahun belakangan.

Kolektivitas kedua negara tidak hanya melingkupi perdagangan dan investasi, namun juga ranah industri, ekonomi digital, teknologi, sampai pendidikan.

Airlangga menerangkan, Indonesia dan China telah mengantongi beberapa kesepakatan perdagangan yang menjadi landasan hubungan ekonomi kedua negara, seperti ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) yang berlaku sejak 2010 serta Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang efektif diterapkan pada 2022.

Angka perdagangan bilateral juga terus melonjak.

Berdasarkan data Indonesia, nilai perdagangan kedua negara menembus kisaran US$ 154 miliar, sementara berdasarkan data China nilainya berada di kisaran US$ 160 miliar.

Beberapa komoditas utama ekspor Indonesia menuju China melingkupi ferroalloy, nikel matte, lignit, batu bara, hingga minyak sawit.

Di samping menjadi mitra dagang utama, China pun menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia.

Guna memacu realisasi penanaman modal yang lebih masif, pemerintah menawarkan beragam insentif seperti tax holiday hingga 100%, tax allowance, investment allowance, serta super tax deduction untuk sektor-sektor tertentu.

"Kami terbuka untuk bekerja sama dengan partner global termasuk China, baik itu untuk trade investment maupun di sektor jasa maupun di sektor pendidikan. Dan saya mengundang bisnis pemusaha dari China untuk melanjutkan investasi di Indonesia terutama terhadap sektor yang mempunyai nilai tambah tinggi," pungkas Airlangga.

Pemerintah turut terus memperluas kerja sama Indonesia dan China di berbagai sektor strategis.

Di ranah pendidikan, kolaborasi telah dijalankan bersama Tsinghua University lewat agenda riset serta seminar yang diselenggarakan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bali.

Sedangkan di sektor otomotif, pemerintah mendorong penguatan modal pabrikan kendaraan listrik asal China, seperti BYD dan Chery, yang saat ini telah masuk ke dalam jajaran lima besar pangsa pasar otomotif di Indonesia.

Pada sektor ekonomi digital, pemerintah turut membuka peluang modal di industri semikonduktor, pembangunan jaringan serat optik, pengembangan aplikasi digital, hingga pembangunan pusat data (data center) demi bagian dari akselerasi transformasi ekonomi digital nasional.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menuturkan hubungan ekonomi Indonesia dan China diproyeksikan bakal terus berkembang sejalan dengan kian luasnya ruang kerja sama di berbagai sektor.

"Hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok ini terus menunjukkan perkembangan yang semakin kuat dan komprehensif. Pemerintah berkomitmen untuk terus membuka peluang dan memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, tidak hanya di bidang perdagangan dan investasi, tetapi juga pada sektor-sektor strategis seperti industri, pendidikan, ekonomi digital, dan teknologi," ujar Haryo Limanseto.

Terkini