JAKARTA - Pemerintah menetapkan Garuda Indonesia bakal dijadikan holding maskapai BUMN, sedangkan Pelita bakal melebur jadi bagian Garuda Group.
Tujuan penggabungan tersebut untuk membentuk kekuatan maskapai penerbangan nasional yang kian solid, efisien, dan memiliki daya saing tinggi.
Danantara bersama BP BUMN terus mendorong penggabungan maskapai BUMN sebagai langkah strategis memperkokoh industri penerbangan dalam negeri.
Seirama dengan proses tersebut, pada Kamis (23/7/2026), Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, melangsungkan pertemuan bersama jajaran direksi Pelita guna membicarakan arah penguatan holding maskapai nasional.
Pada kesempatan itu, Dony menerangkan perihal holding maskapai BUMN, yang mana penggabungan ini bakal memperkuat kapasitas kelompok usaha saat menghadapi persaingan bisnis penerbangan.
“Garuda Indonesia nanti akan menjadi holding maskapai kami. Pelita akan menjadi bagian dari Garuda Indonesia. Dengan konsolidasi ini, perusahaan-perusahaan tersebut akan memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk bersaing dan menguasai pasar,” ujar Dony.
Selain memperkokoh struktur perusahaan, Dony menegaskan bahwa bisnis penerbangan ialah usaha yang memerlukan ketepatan tinggi serta penentuan keputusan yang cepat pada setiap aspek operasional supaya performa perusahaan senantiasa terjaga.
“Industri yang membutuhkan ketelitian, yang harus dikelola day by day, minute by minute, adalah industri penerbangan. Begitu pesawat terbang, kami sudah bisa mengukur untung atau ruginya satu penerbangan. Karena itu, penting melakukan analisis terhadap setiap rute dan konektivitas,” ujar Dony.
Sejalan dengan hal itu, BP BUMN dan Danantara turut mendorong peningkatan standar pelayanan Garuda Group secara menyeluruh, diawali dari pre-flight, in-flight, sampai post-flight.
Penguatan mutu pelayanan dilakukan lewat penyatuan sistem penjualan tiket, perbaikan kualitas ruang tunggu, pengalaman pada kabin, standar layanan kru pesawat, kualitas katering, hingga penguatan program loyalitas konsumen serta pengembangan sumber daya manusia.
Melalui penggabungan dan peningkatan standar layanan pada seluruh rantai perjalanan penumpang, Garuda Group diharapkan sanggup menjadi maskapai pilihan utama warga Indonesia sekaligus mendongkrak daya saing sebagai pemain utama di tingkat regional.
Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia sedang mematangkan taktik besar terkait pemenuhan armada penerbangan komersial dalam negeri.
Salah satunya yaitu dengan mendirikan perusahaan leasing pesawat terbang.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, membeberkan bahwa Danantara saat ini tengah mengkaji secara mendalam rencana pembentukan perusahaan penyewaan atau leasing pesawat terbang secara mandiri.
Langkah strategis serta struktural tersebut tidak terlepas dari komitmen pengadaan 50 unit armada pesawat Boeing yang nantinya bakal dioperasikan oleh maskapai penerbangan milik negara, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).
Rencana baru terkait pendirian perusahaan leasing itu disampaikan secara langsung oleh Dony usai dirinya mengikuti agenda Rapat Kerja (Raker) bersama jajaran Komisi VI DPR RI di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
“Kami sedang mengkaji juga kemungkinan Danantara untuk membuka perusahaan leasing sendiri,” ujar Dony, dikutip dari Sumbernya, Selasa (9/6/2026).
Dony lebih jauh menerangkan bahwa wacana realisasi pembelian puluhan armada penerbangan buatan Amerika Serikat ini memerlukan proses pertimbangan yang amat menyeluruh.
Pihaknya mesti menghitung secara teliti jadwal kedatangan armada penerbangan di Tanah Air, merancang konstruksi skema bisnis komersial yang pas, hingga detail skema penyewaan pesawat terbangnya kelak.
“Tentu banyak pertimbangan, ya. Tetapi tentu komitmennya harus kami jalankan,” tegas Dony menambahkan.