Rupiah Diproyeksi Menguat Berkat Peringkat Utang Indonesia dari S&P

Selasa, 14 Juli 2026 | 14:52:40 WIB
Ilustrasi proyeksi pergerakan rupiah.(FOTO:NET)

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah di pasar spot diperkirakan bakal mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini (14/7/2026).

Sebagai catatan, mata uang garuda ini sempat ditutup terdepresiasi pada perdagangan Senin (13/7/2026).

Berdasarkan data dari Bloomberg, posisi rupiah di pasar spot melemah sebesar 0,24% secara harian menjadi Rp 18.109 per dolar AS.

Sementara merujuk pada data Jisdor Bank Indonesia (BI), mata uang rupiah juga mengalami pelemahan 0,34% secara harian ke posisi Rp 18.131 per dolar AS.

Lukman Leong selaku Chief Analyst Doo Financial Futures memperkirakan bahwa rupiah berpeluang menguat hari ini (14/7/2026) lantaran S&P Global Ratings masih mempertahankan peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia di level BBB serta jangka pendek A-2.

Pada pengumuman sebelumnya, lembaga S&P menyatakan bahwa prospek peringkat jangka panjang berada di level stabil, yang menggambarkan keyakinan bahwa merosotnya metrik fiskal serta eksternal hanya bersifat temporer dan bakal berbalik arah seiring meningkatnya harga komoditas serta stabilnya arah kebijakan.

“Untuk besok (hari ini) ada kemungkinan (rupiah) bisa menguat setelah S&P mempertahankan rating kredit Indonesia tetap di BBB dengan outlook stabil,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (13/7/2026).

Lukman memperkirakan pergerakan rupiah bakal berada di rentang Rp 18.000 – Rp 18.150 per dolar AS sepanjang hari ini.

Di sisi lain, Ibrahim Assuaibi selaku Analis Mata Uang & Komoditas menilai bahwa para pelaku pasar memberikan respons negatif terhadap dugaan kasus korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah.

Hal tersebut dikarenakan negara dengan sistem penegakan hukum yang buruk berpotensi menghambat kinerja sekaligus pertumbuhan ekonominya.

Kondisi ini bukan sekadar teori belaka, melainkan fakta yang nyata terjadi di beberapa negara yang memiliki sistem hukum lemah.

“Oleh karena itu, sasaran pertumbuhan menuju 8% sangat sulit dicapai jika lingkungan bisnisnya rusak seperti kasus hukum yang terjadi sekarang ini,” ucap Ibrahim, Senin (13/7/2026).

Ibrahim juga memproyeksikan bahwa laju rupiah bakal ikut dipengaruhi oleh sentimen dari memanasnya eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Untuk perdagangan hari ini (14/7/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berujung ditutup melemah pada kisaran Rp 18.100 – Rp 18.150 per dolar AS.

Terkini