Hubungan Bitcoin dan Yen Menguat Ketat Patahkan Teori Carry Trade

Rabu, 01 Juli 2026 | 08:14:16 WIB
Ilustrasi bitcoin (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan harga bitcoin menunjukkan hubungan yang semakin erat dengan nilai tukar dolar AS terhadap yen Jepang (US$/JPY). Hal ini memunculkan keraguan terhadap teori carry trade yang selama ini menjadi salah satu acuan pelaku pasar dalam membaca arah aset berisiko. Berdasarkan data TradingView, korelasi bergulir selama 52 pekan antara harga bitcoin di Coinbase dan pasangan mata uang US$/JPY turun menjadi -0,90, level negatif terdalam sejak akhir 2022.

Korelasi tersebut menunjukkan hubungan negatif yang sangat kuat, di mana harga bitcoin cenderung melemah ketika nilai tukar US$/JPY naik atau yen terdepresiasi terhadap dolar AS. Sebaliknya, bitcoin cenderung menguat ketika yen menguat. Secara statistik, sekitar 81% perubahan mingguan harga bitcoin bergerak searah dengan perubahan pasangan mata uang USD/JPY. Temuan ini bertolak belakang dengan teori carry trade yang selama ini beranggapan pelemahan yen justru mendukung kenaikan aset berisiko, termasuk saham dan mata uang kripto.

Selama bertahun-tahun, investor memanfaatkan suku bunga rendah di Jepang dengan meminjam yen untuk kemudian diinvestasikan ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Dalam skenario tersebut, penguatan yen biasanya diperkirakan memicu pelepasan aset berisiko (risk-off). Fenomena itu sempat terjadi pada Juli-Agustus 2024 ketika Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga sehingga yen menguat tajam dan memicu koreksi di pasar keuangan, termasuk bitcoin yang turun dari sekitar US$65.000 ke kisaran US$50.000.

Namun, pola terbaru justru menunjukkan arah yang berbeda. Pelemahan yen belakangan ini diikuti penurunan harga bitcoin, sehingga memperlemah asumsi bahwa depresiasi mata uang Jepang selalu mendukung reli aset kripto. Meski demikian, hubungan tersebut belum tentu menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat secara langsung. Analis menilai faktor yang lebih dominan kemungkinan berasal dari penguatan dolar AS secara global. Ekspektasi pasar terhadap peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga tahun ini telah mendorong dolar menguat terhadap berbagai mata uang utama, termasuk yen, euro, dolar Australia, dan dolar Selandia Baru.

Terkini