Investor Tunggu Data Ekonomi Jadi Pemicu Rupiah Dibuka Melemah Pagi ini

Rabu, 01 Juli 2026 | 07:57:48 WIB
Ilustrasi nilai tukar (sumber foto: NET)

JAKARTA - Mata uang rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini. Rupiah dibuka di level Rp 17.876 per dolar AS, mengalami penurunan sebesar 0,14% atau 25 poin. Hingga pukul 09.25 WIB, mata uang Garuda kian melemah ke posisi Rp 17.891 per dolar AS atau turun 0,22% sebesar 40 poin. Pada perdagangan sebelumnya, mata uang domestik ini ditutup di Rp 17.852 per dolar AS, sempat menguat 0,40% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di Rp 17.922 per dolar AS.

Pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang memilih untuk menunggu menjelang rilis beberapa data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun AS. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian perkembangan geopolitik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Mata uang rupiah pun diperkirakan berpotensi bergerak range bound dengan kecenderungan melemah secara terbatas karena investor masih berhati-hati menanti indikator ekonomi utama.

"Rupiah diperkirakan akan range bound terhadap dolar AS dengan potensi melemah terbatas. Investor cenderung wait and see rentetan data-data ekonomi penting baik dari domestik maupun AS pekan ini," ujar Lukman.

Rupiah diproyeksikan akan bergerak pada kisaran rentang harga sebagai berikut: Rp 17.800-Rp 17.900 per dolar AS.

Meski demikian, nilai tukar mata uang domestik dinilai masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan hingga ke level Rp 17.810 per dolar AS. Terdapat sejumlah sentimen positif yang dapat menopang pergerakan mata uang Garuda, salah satunya adalah kembali melemahnya harga minyak mentah Brent yang dinilai mampu menurunkan risiko inflasi global sekaligus meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.

Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut mendorong berlanjutnya sentimen risk on di pasar keuangan global. Kondisi tersebut ikut meningkatkan minat investor terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Dari dalam negeri, pasar juga akan mencermati pelaksanaan lelang Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia yang digelar hari ini.

Terkini