JAKARTA - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) disebut oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa akan menjadi salah satu pendorong utama ekspor guna menyokong target pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah yang dilakukan berupa penyediaan pembiayaan dengan bunga rendah untuk para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) eksportir.
Menkeu menjelaskan bahwa LPEI sudah menyediakan Program Pembiayaan Kawasan Ekonomi yang mengenakan bunga maksimal 6 persen per tahun. Di samping itu, tingkat suku bunga tersebut masih bisa diturunkan lagi sampai 4 persen jika dibutuhkan demi memacu peningkatan ekspor.
“Di Kemenkeu ada LPEI yang punya Program Pembiayaan Kawasan Ekonomi untuk UKM eksportir. Kami menawarkan suku bunga maksimal enam persen per tahun, bahkan empat persen jika diperlukan demi pertumbuhan,” ucap Purbaya.
Berdasarkan penuturan Purbaya, penyediaan dana murah ini menjadi salah satu instrumen pertumbuhan yang sedang digenjot oleh pemerintah demi memperkokoh capaian ekspor serta investasi. Target pertumbuhan ekonomi di angka 8 persen dinilai dapat diraih secara bertahap, yang diawali dengan target pergerakan ke level 6 persen pada tahun ini. Purbaya juga memandang kondisi investasi, ekspor, dan tingkat produktivitas tanah air kini terus mengalami kemajuan.
“Ketika global gonjang-ganjing (tidak pasti) saja kita masih bisa tumbuh 5,61 persen. Ini kan mesin pertumbuhan ekonomi baru dipanaskan,” tuturnya.
Di samping mengoptimalkan pembiayaan untuk ekspor, pemerintah juga tetap menggulirkan reformasi fiskal, terutama pada sektor perpajakan serta kepabeanan. Strategi ini dipercaya mampu menguatkan pendapatan negara sekaligus membuka ruang fiskal yang semakin lebar guna menyokong pembangunan serta menjaga tren pertumbuhan ekonomi.
Sebelumnya, pemerintah memprediksi target pertumbuhan ekonomi tanah air dapat menyentuh 8 persen dalam kurun waktu 2 sampai 3 tahun ke depan. Purbaya menyampaikan bahwa tren pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah mulai tampak, yang didukung pula oleh reformasi kebijakan ekonomi yang terus dipacu oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
“Jadi, pertumbuhan delapan persen mungkin orang-orang bilang terlalu tinggi, tapi kalau untuk saya sudah hampir kelihatan nanti dua tahun, tiga tahun lagi Anda sudah ngelihat tuh angka delapan persen, sudah nyundul-nyundul ke atas. Artinya prospek pasar saham kita juga akan naik dengan signifikan,” kata Purbaya.
Pemerintah turut menyatakan bahwa proyeksi pasar saham bakal mengalami kenaikan yang sangat berarti. Dalam hal ini, publik diklaim bakal merasakan dampak positif dari peningkatan pertumbuhan ekonomi serta penguatan pasar saham di masa mendatang.
“Tanpa reformasi industri yang berlebihan kita bisa tumbuh enam persen dengan hanya menghidupkan private sector (swasta) dan government sector (pemerintah) saja. Itu modal awal. Belum lagi nanti kalau kita rubah struktur ekonominya secara bertahap,” pungkasnya.