Kredit Digital Amar Bank Melompat Tiga Puluh Persen Kuartal Satu

Sabtu, 20 Juni 2026 | 14:23:37 WIB
Ilustrasi Amar Bank, sumber : (NET)

JAKARTA – Kinerja positif berhasil dibukukan pada kuartal pertama tahun 2026. Perusahaan mencatatkan perolehan laba bersih senilai Rp71,12 miliar yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,36 persen secara tahunan, sekaligus menjadi pencapaian keuntungan tertinggi sepanjang sejarah berdirinya perusahaan.

Pada saat yang sama, pembiayaan kredit bruto dari bank digital yang berfokus pada sektor ritel serta UMKM ini melesat sebesar 30,62 persen secara tahunan hingga mencapai angka Rp4,16 triliun, yang mana hasil tersebut berhasil melewati rata-rata pertumbuhan industri perbankan di tanah air.

Peningkatan performa keuntungan dan pembiayaan yang kuat ini berjalan beriringan dengan pemulihan kualitas aset. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net yang berhasil ditekan turun ke angka 0,86 persen pada kuartal pertama 2026, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang berada di posisi 1,48 persen.

Terkait keberhasilan penyaluran kredit dengan rasio NPL yang terjaga rendah di angka 0,86 persen tersebut, dijelaskan bahwa lonjakan pembiayaan yang tetap prudent ini dapat dicapai berkat peran krusial dari sistem penilaian kredit.

"Salah satu bagian komponen krusial dari sistem tersebut adalah credit scoring yang senantiasa kami update secara berkala dengan mempertimbangkan tren perilaku yang paling baru," ungkapnya saat pelaksanaan paparan publik di Jakarta pada Kamis, 18 Juni 2026.

Sistem penilaian ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam memvalidasi latar belakang serta rekam jejak para debitur, yang mana sebesar 86 persen dialokasikan untuk kredit produktif dengan rincian 55 persen mengalir ke segmen UMKM dan 56 persen menuju sektor riil.

Penerapan sistem penilaian tersebut juga dikombinasikan dengan pola komunikasi dua arah yang intensif kepada para nasabah. Langkah ini terbukti efektif membuat para debitur menempatkan bank sebagai rekan kerja dalam merampungkan kewajiban kredit yang berjalan.

"Sehingga, Amar Bank senantiasa dilihat sebagai partner oleh nasabah, bukan sebagai pihak yang perlu ditakuti," tambahnya.

Penurunan rasio kredit bermasalah ini juga ditopang oleh kebijakan alokasi cadangan kerugian yang dibuat secara konservatif demi mematuhi asas kehati-hatian perbankan.

"Sehingga, kami meyakini bahwa angka NPL yang rendah itu sudah merupakan hasil pencadangan yang konservatif, dan menunjukkan tingkat kepercayaan kami yang sangat tinggi atas profitabilitas kami ke depannya," jelasnya.

Selain itu, sektor UMKM yang menjadi target pasar utama dinilai memiliki daya tahan serta ketangguhan yang sangat tinggi dalam menghadapi gejolak perekonomian.

Meski tetap merasakan imbas negatif terutama pada aktivitas ekspor dan impor, lini usaha UMKM yang dikelola mandiri atau keluarga memiliki sistem bertahan tersendiri yang jauh lebih sederhana dibandingkan dengan korporasi skala besar, sehingga mereka menjadi lebih adaptif saat krisis.

"Mereka punya metode bertahan yang berbeda, dan kami cukup salut sih kalau ketemu mereka, mereka resilien. Di tengah kondisi itu, mereka resilien sekali," tegasnya.

Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat terjadi belakangan ini dipandang tidak membawa dampak secara langsung bagi operasional dan kinerja perseroan.

Namun demikian, manajemen akan tetap mengutamakan asas kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan demi memelihara kualitas aset serta menjaga keberlanjutan ekspansi bisnis di tengah situasi ekonomi global yang dinamis.

Terkini