Defisit APBN Mei 2026 Tercatat Capai Rp 180,4 Triliun atau 0,7 Persen PDB

Senin, 08 Juni 2026 | 15:40:55 WIB
Ilustrasi APBN, Sumber: bloombergtechnoz.

JAKARTA - Situasi terkini mengenai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memasuki periode Mei 2026 telah dilaporkan berada di angka Rp 180,4 triliun atau setara dengan 0,7 persen dari PDB.

“Yang paling penting adalah defisitnya mengalami 0,7%. Lima bulan tahun ini 0,7% dari PDB,”

Berdasarkan pencatatan data keuangan tersebut, sektor pendapatan negara memperlihatkan pergerakan positif dengan capaian hingga Rp 1.185 triliun serta mencatatkan pertumbuhan 19,1 persen secara tahunan.

Akselerasi pada performa finansial ini berhasil ditopang oleh realisasi sektor penerimaan perpajakan yang dipadukan dengan kontribusi dari penerimaan negara bukan pajak.

Jika dirinci secara menyeluruh, perolehan riil dari sektor pendapatan negara tersebut bersumber dari beberapa pos berikut:

Penerimaan pajak sebesar Rp 958,2 triliun.

Penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp 123,8 triliun.

Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp 226,4 triliun.

“Kami lihat pendapatan tumbuh 19,1% yang paling menarik adalah pendapatan pajak naiknya 22,1% [secara tahunan] bea cukai 0,7% [secara tahunan] sudah positif dua bulan berturut-turut. PNBP naiknya 19,9% [secara tahunan]”

Pada arah pergerakan yang lain, alokasi untuk belanja negara juga dilaporkan ikut merangkak naik secara signifikan, di mana realisasi pengeluaran tersebut saat ini telah menyentuh angka Rp 1.365,4 triliun.

“Belanja tetap tumbuh 34,4%. Bagus artinya sesuai dengan target karena kami ingin mempercepat belanja,”

Adapun untuk realisasi dari keseluruhan pos pembelanjaan negara tersebut mencakup sejumlah komponen sektor di bawah ini:

Belanja kementerian/lembaga mencapai Rp 517,7 triliun atau tumbuh 58,9 persen secara tahunan.

Belanja non-kementerian/lembaga mencapai Rp 541,6 triliun atau tumbuh 47 persen secara tahunan.

Transfer ke Daerah mengalami perlambatan 4,9 persen di angka Rp 306,1 triliun.

Walaupun terdapat fluktuasi pada nominal defisit APBN 2026, hasil yang relatif menggembirakan justru diperlihatkan oleh komponen keseimbangan primer negara.

Kondisi paling baru dari posisi keseimbangan primer tersebut dilaporkan sukses mencetak performa yang bernilai positif.

“Artinya anggaran kami lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,”

Terkini