JAKARTA - Situasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga akhir Mei 2026 diinformasikan berada dalam kondisi yang semakin positif.
Meskipun nilai tukar rupiah sedang menghadapi tekanan dan pelaku pasar sempat mencemaskan keadaan fiskal, pemerintah berhasil menjaga tingkat defisit tetap rendah.
Estimasi defisit anggaran nasional sampai akhir Mei 2026 diprediksi bertahan pada angka 1,7 persen hingga 1,8 persen dari total produk domestik bruto.
Angka tersebut mengindikasikan bahwa ketahanan fiskal tanah air masih dalam posisi yang sangat aman lantaran nilainya berada jauh di bawah batas maksimal yang ditentukan.
"Kalau saya tidak salah hitung, sekitar 1,7-1,8 persen dari PDB. Jadi kalau di situ, anggaran kita aman sekali," kata Purbaya kepada wartawan, Rabu (3/6).
Penjelasan ini sekaligus menjawab kekhawatiran sejumlah pelaku pasar yang menghubungkan penurunan kurs rupiah dengan pengelolaan keuangan negara, di mana realisasinya justru menunjukkan grafik peningkatan dari bulan sebelumnya.
Bukan hanya angka defisit yang mengalami penyusutan, keseimbangan primer pada periode Mei 2026 juga berhasil mencatatkan nilai yang kembali positif.
Surplus pada keseimbangan primer ini dihitung dari selisih pendapatan fiskal dikurangi belanja pemerintah tanpa menyertakan beban bunga utang, yang menjadi indikator utama kesehatan finansial negara.
"Di bulan Mei juga surplusnya, primary surplus-nya positif lagi. Lebih tinggi dibanding bulan April," ujar Purbaya.
Jika ditinjau dari aspek pemasukan, sektor perpajakan nasional turut memperlihatkan lonjakan performa yang sangat meyakinkan.
Pemasukan dari sektor pajak sampai bulan kelima di tahun 2026 ini mengalami akselerasi di atas 22 persen jika dikomparasikan dengan catatan pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Pencapaian tersebut mengindikasikan bahwa implementasi dari program pembenahan sistem perpajakan yang dijalankan otoritas terkait sudah mulai membuahkan hasil nyata.
"Dan pendapatan pajak kita lebih bagus dibanding tahun lalu. Tumbuhnya 22 persen lebih," katanya.
Akselerasi yang solid di sektor perpajakan ini dipercaya akan memperlebar kapasitas finansial pemerintah sekaligus memelihara stabilitas jangka panjang di tengah ketidakpastian situasi ekonomi dunia.
Pandangan keliru yang menyebutkan bahwa pengelolaan instrumen keuangan negara dilakukan secara gegabah atau tanpa perhitungan matang juga langsung ditepis, sebab seluruh parameter justru mengarah pada kondisi yang sehat.
"Jadi kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu. Kita makin bagus. Nanti saya kasih tahu di APBN Kita," kata Purbaya.
Otoritas keuangan dalam waktu dekat akan segera memublikasikan rilis berkala mengenai capaian realisasi anggaran periode Mei 2026.
Laporan berkala tersebut nantinya bakal menjadi rujukan utama bagi para pelaku pasar untuk memantau dinamika finansial domestik di tengah volatilitas sektor keuangan dunia serta tekanan pada mata uang rupiah.