PONTIANAK - Situasi ketidakpastian global saat ini masih terus membayangi laju perekonomian dunia akibat eskalasi dinamika geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga kelesuan aktivitas perdagangan internasional.
Kendati dihantam tantangan global tersebut, performa perekonomian domestik Indonesia terbukti mampu menunjukkan tingkat resiliensi yang solid, termasuk di antaranya performa ekonomi di wilayah Kalimantan Barat.
Di tengah gejolak geopolitik dunia, APBN Regional Kalimantan Barat tetap tumbuh.
Berdasarkan data yang dirinci, perolehan pendapatan negara untuk area tersebut berhasil dibukukan senilai Rp4.458,47 miliar atau menyentuh 26,56 persen dari total target yang ditetapkan.
Di sisi lain, penyerapan belanja negara dilaporkan telah menyerap dana sebesar Rp9.200,48 miliar atau menyentuh angka 34,46 persen dari keseluruhan pagu.
Melalui rincian pencapaian tersebut, kondisi defisit anggaran pada level regional menembus angka Rp4.742,01 miliar atau mengalami pelebaran sebesar 0,18 persen bila dibandingkan secara tahunan.
Jika ditinjau dari instrumen pemasukan negara, sektor perpajakan terpantau masih memegang peranan krusial sebagai pilar penyangga paling utama.
Sampai dengan periode April 2026, setoran dari sektor pajak mampu direalisasikan hingga Rp3.974,91 miliar atau menembus 25,13 persen dari target, serta mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 16,83 persen.
Sementara itu, perolehan pada sektor kepabeanan dan juga cukai hingga bulan April 2026 berhasil membukukan pertumbuhan tahunan di angka 5,82 persen.
Faktor pendorong kenaikan bea masuk disumbang oleh aktivitas impor untuk komoditas bahan kimia pengolahan alumina yang memberikan kontribusi dominan mencapai 44,40 persen.
Sebaliknya, catatan untuk bea keluar terpantau masih berada dalam zona kontraksi sebesar 10 persen lantaran aktivitas ekspor untuk produk minyak kelapa sawit mentah masih belum berjalan.
Sejauh ini, struktur kegiatan ekspor di wilayah tersebut masih didominasi kuat oleh komoditas produk turunan serta ampas inti sawit.
Beralih pada sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP, realisasi yang dikumpulkan pada daerah ini sudah menyentuh nominal Rp483,57 miliar.
Angka pencapaian PNBP tersebut setara dengan 50,11 persen dari target utama, sekaligus tumbuh sebesar 5,80 persen jika disandingkan dengan perolehan pada periode tahun sebelumnya.
Kinerja Badan Layanan Umum atau BLU juga tetap positif dengan Universitas Tanjungpura menjadi satuan kerja dengan capaian PNBP BLU tertinggi sebesar Rp112,89 mliar.
Melihat dari aspek pengeluaran, realisasi belanja pemerintah pusat tercatat berada pada nominal Rp2.997,56 miliar atau sebesar 28,86 persen dari pagu dan melonjak 42,36 persen secara tahunan.
Selanjutnya, untuk pos Transfer ke Daerah atau TKD dilaporkan telah tersalurkan sebanyak Rp6.202,92 miliar atau berada pada kisaran 38,02 persen dari pagu anggaran.
Pemerintah provinsi setempat berhasil menjadi daerah dengan tingkat realisasi penyaluran paling tinggi, baik dinilai dari segi nominal murni maupun persentase, lewat angka pemanfaatan senilai Rp979,01 miliar.
Sementara untuk tingkat kabupaten dan kota, raihan nominal terbesar berhasil diperoleh oleh Kabupaten Ketapang dengan jumlah pemanfaatan dana menyentuh Rp574,96 billion.