Rupiah Hampir Sentuh Rp18.000 per Dolar AS akibat Beban Tunggal

Jumat, 29 Mei 2026 | 14:18:07 WIB
Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS, Sumber: (NET).

JAKARTA - Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini dinilai tengah mengalami fase overshooting yang cukup dalam. Penyusutan nilai mata uang domestik sekarang ini dianggap telah melewati batas kewajaran jika diukur dari indikator fundamental ekonomi jangka panjang negara.

Mata uang Garuda kini dipaksa bekerja ekstra keras sebagai penahan utama dari beragam guncangan ekonomi dunia. Padahal, hantaman keras yang datang bertubi-tubi tersebut idealnya dapat terbagi secara merata ke beraneka ragam sektor di dalam negeri.

Fenomena rupiah yang menanggung beban berat sendirian ini bersumber dari adanya langkah masif dalam menahan penyesuaian di sektor domestik guna menjaga stabilitas sosial masyarakat. Upaya penahanan ini diterapkan pada sektor harga energi hingga tingkat inflasi.

Langkah perlindungan tersebut memicu dampak negatif berupa pergeseran hantaman ekonomi global yang terus berlanjut, hingga akhirnya bertumpu sepenuhnya pada pergerakan nilai tukar.

Berdasarkan pada teori Dornbusch Overshooting, ketika sektor harga di dalam negeri cenderung kaku sementara pasar keuangan merespons dengan sangat cepat, maka nilai tukar akan bereaksi secara ekstrem.

Pasar finansial dunia saat ini tidak hanya memperhatikan data sekilas yang muncul hari ini saja. “Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respons, dan kemampuan negara menjaga stabilitas,” ujar Fakhrul.

Tekanan masif dari luar negeri dipicu oleh kombinasi keperkasaan dolar Amerika Serikat, tingginya tingkat imbal hasil US Treasury, serta meluasnya fragmentasi perdagangan internasional.

Dari area domestik sendiri, para pelaku pasar mengendus adanya ketidakselarasan antara kebijakan fiskal dengan kebijakan moneter. Hal tersebut pada ujungnya membuat beban kerja yang dipikul oleh Bank Indonesia menjadi jauh lebih berat.

Kebijakan Bank Indonesia dinilai sudah melangkah ke depan lewat penerapan pendekatan pre-emptive serta ahead the curve. Kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin dipandang sebagai langkah krusial demi memulihkan kredibilitas otoritas moneter sekaligus menjaga jangkar pasar keuangan.

Kendati demikian, proses pemulihan mata uang ini tidak bisa dipasrahkan kepada Bank Indonesia sendirian. Pemerintah tetap diwajibkan menghadirkan bauran kebijakan yang seimbang antara sektor moneter dan fiskal.

“Pasar ingin melihat burden sharing yang lebih seimbang. Jangan semua tekanan ditanggung rupiah dan BI,” tegas Fakhrul. Apabila penyelarasan ini berjalan timpang, dampak buruknya dinilai akan langsung menjalar ke sektor riil nasional yang saat ini mulai masuk ke tahapan mengkhawatirkan.

Meski dihadapkan pada tantangan yang berat, sikap optimistis tetap ada bahwa rupiah masih mempunyai ruang pemulihan yang cukup besar di masa depan. Angka nilai tukar saat ini dinilai terlalu rendah jika dibandingkan dengan kapasitas serta daya tahan ekonomi nasional yang sebenarnya.

Rupiah diperkirakan mempunyai potensi untuk bergerak menguat kembali ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Syarat utamanya, pemerintah wajib segera menunjukkan roadmap penstabilan yang transparan beserta pembagian beban kebijakan yang lebih masuk akal antara sektor fiskal dan moneter.

Pelajaran berharga dari pergolakan ini adalah stabilitas ekonomi tidak boleh hanya bertumpu pada satu lembaga saja, melainkan memerlukan struktur ekonomi yang lebih anti-fragile melalui koordinasi lintas sektor yang lebih kuat.

Pada kesempatan lain, pengamat pasar uang dan komoditas memprediksi nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan yang sangat kuat. Mata uang domestik berpotensi mendekati level psikologis baru yaitu Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Jumat (29/5/2026).

Situasi sulit ini terus dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal serta internal yang dirasa kian hari kian membebani posisi mata uang Garuda.

Berdasarkan hasil pemantauan pasar yang bergerak fluktuatif, rupiah bertengger di posisi Rp17.855,5 per dolar Amerika Serikat atau mengalami pelemahan sekitar 54,5 poin. Bahkan pada pergerakan harian, nilai tukar sempat menyentuh kisaran Rp17.870 per dolar Amerika Serikat.

Mencermati sentimen penutupan pekan, Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa ada kemungkinan pembukaan pasar besok di hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Terkini