JAKARTA - Tren penurunan harga emas dunia akhirnya terhenti pada perdagangan pagi ini. Komoditas logam mulia tersebut berhasil berbalik arah ke zona hijau setelah sempat melemah selama empat hari berturut-turut.
Berdasarkan data pasar spot pada Selasa, 19 Mei 2026 pukul 07:18 WIB, harga emas dunia bertengger di level 4.577,6 dolar AS per troy ons.
Nilai tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 0,23 persen jika dibandingkan dengan posisi pada hari sebelumnya.
Performa positif ini melanjutkan peningkatkan yang terjadi pada penutupan perdagangan kemarin.
Pada hari sebelumnya, harga sang logam mulia finis dengan penguatan 0,42 persen dan berada di posisi 4.566,9 dolar AS per troy ons.
Apabila pergerakan positif ini terus bertahan hingga akhir hari, maka harga emas dunia akan mencatatkan akumulasi kenaikan selama dua hari beruntun.
Pemulihan ini menjadi momentum penting setelah harga sempat merosot hampir 4 persen dalam kurun waktu empat hari sebelumnya.
Penurunan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tampaknya dipandang oleh para pelaku pasar sebagai momentum yang tepat untuk membeli.
Penilaian bahwa harga komoditas ini sudah relatif murah memicu aksi beli yang kemudian mendorong terjadinya rebound.
Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah juga turut memengaruhi pergerakan pasar finansial global.
Pelaku pasar mendapatkan sentimen positif setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membatalkan rencana serangan ke Iran seiring adanya proses negosiasi yang serius untuk mencapai kesepakatan.
Di sisi lain, pergerakan harga energi global menunjukkan dinamika yang berbeda pada pagi ini.
Harga minyak mentah jenis Brent mengalami pelemahan sebesar 0,15 persen ke level 109,1 dolar AS per barel pada pukul 07:03 WIB, meskipun secara akumulatif telah melonjak lebih dari 14 persen dalam satu bulan terakhir.
Situasi ini membuat para pelaku pasar tetap bersikap waspada dan menghindari euforia yang berlebihan karena tensi geopolitik sewaktu-waktu dapat kembali meningkat.
Tingginya harga energi memicu kekhawatiran terhadap risiko inflasi global yang signifikan.
Kondisi inflasi yang persisten tersebut diyakini akan menyulitkan bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter mereka, terutama dalam hal penurunan suku bunga acuan.
Situasi ini memberikan tantangan tersendiri bagi instrumen emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil.
“Investasi baru di logam mulia mengering hingga hanya menjadi tetesan. Resolusi konflik menjadi kunci untuk kembali mendongkrak permintaan,” tegas catatan lembaga analis pasar tersebut.
Berdasarkan analisis teknikal dengan perspektif harian, pergerakan harga emas saat ini secara umum sebenarnya masih berada di dalam zona bearish.
Kondisi tersebut terindikasi dari posisi Relative Strength Index 14 hari yang berada di angka 43, di mana level di bawah 50 merefleksikan posisi bearish.
Indikator Stochastic RSI 14 hari saat ini juga menempati area jual yang cukup kuat pada level 34.
Kendati demikian, peluang penguatan untuk perdagangan hari ini diperkirakan masih terbuka dengan potensi menguji area support di rentang 4.633 hingga 4.643 dolar AS per troy ons.
Untuk target pergerakan yang paling optimistis, tingkat resisten terjauh diproyeksikan berada pada level 4.738 dolar AS per troy ons.
Sebaliknya, jika harga emas justru kembali bergerak turun, tingkat pivot point pada posisi 4.549 dolar AS per troy ons menjadi area krusial yang perlu diwaspadai.
Penurunan di bawah level pivot point tersebut berisiko membawa harga emas dunia untuk menguji rentang support berikutnya di kisaran 4.531 hingga 4.513 dolar AS per troy ons.
Sementara itu, batasan support terjauh untuk skenario pergerakan yang paling pesimistis diperkirakan berada di level 4.409 dolar AS per troy ons.