JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah pada pembukaan perdagangan pagi ini. Pelemahan mata uang lokal ini terjadi hingga menyentuh angka 17.700-an per dolar AS, di saat mata uang global tersebut sebenarnya juga sedang berada dalam posisi tertekan.
Berdasarkan data pasar terbaru pada Selasa, mata uang Indonesia ini bertengger pada posisi 17.704 per USD. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 36 poin atau melemah sekitar 0,20 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan pada hari sebelumnya yang berada di level 17.667 per USD.
Sementara itu, catatan dari data keuangan lainnya menunjukkan rupiah berada pada level 17.661 per USD pada waktu yang sama. Pergerakan mata uang domestik ini memperlihatkan tren penurunan jika berkaca dari pembukaan perdagangan hari kemarin yang sempat berada di posisi 17.491 per USD.
Kondisi pergerakan nilai tukar saat ini dinilai masih akan bergerak fluktuatif serta memiliki kecenderungan untuk terus melemah sepanjang perdagangan hari ini. Pergerakan mata uang nasional diprediksi akan berada pada rentang angka 17.680 sampai 17.750 per dolar AS.
Faktor ketidakpastian global yang dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia serta ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah ditengarai menjadi penyebab utama yang memengaruhi pergerakan kurs. Situasi ini membuat para pelaku pasar berspekulasi bahwa Federal Reserve bakal tetap menahan tingkat suku bunga tinggi mereka untuk periode yang lebih panjang.
"Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi, mendorong inflasi semakin jauh dari target dua persen The Fed," katanya.
Keadaan di tingkat global dirasa kian memanas setelah terjadinya aksi serangan pesawat tanpa awak di kawasan Uni Emirat Arab serta Arab Saudi, ditambah lagi belum terlihatnya titik terang dalam penyelesaian perselisihan antara AS dan Iran. Keadaan seperti ini memicu kekhawatiran publik akan terjadinya perluasan konflik yang lebih besar.
Dari dalam negeri, pandangan yang bervariasi dari para pelaku pasar terhadap arah kebijakan yang diambil pemerintah turut menjadi perhatian penting. Walaupun demikian, kondisi perekonomian di dalam negeri sendiri sejauh ini dipandang masih berada dalam tahap yang cukup stabil.