JAKARTA — KH Muhammad Najib Muhammad atau yang akrab disapa Abah Najib menyampaikan sejumlah kiat agar para santri di Pondok Pesantren Al-Madienah di Denanyar, Jombang, mampu meraih keberkahan Lailatul Qadar melalui amal ibadah yang konsisten sepanjang Ramadan.
Kunci Konsistensi Ibadah Salat Berjamaah
Abah Najib menggarisbawahi pentingnya menjaga ibadah salat berjamaah sebagai bagian dari upaya memperoleh keberkahan malam Lailatul Qadar. Ia menegaskan bahwa apabila seseorang rutin menunaikan salat Isya berjamaah di masjid dan kemudian melanjutkannya dengan salat Subuh berjamaah, maka hal itu sudah merupakan bentuk pengamalan yang akan membawa keberkahan dari Lailatul Qadar dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan cara seperti ini, umat Islam tidak hanya mengejar satu malam tertentu, tetapi benar-benar menerapkan sikap istiqamah atau konsistensi dalam beribadah — yang menjadi pondasi keimanan seseorang selama Ramadan.
Menyiapkan Diri Menyongsong Sepuluh Hari Terakhir Ramadan
Selain itu, Abah Najib juga memberikan pesan kepada para santri untuk mulai mempersiapkan diri menyongsong sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dengan mengintensifkan ibadah. Pada periode ini, tradisi umat Islam adalah memperbanyak amalan seperti qiyamullail, membaca Al-Quran, dan berdzikir, sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW.
Ia menyebutkan bahwa momentum ini bukan hanya soal mencari waktu yang tepat, tetapi menanamkan kesadaran spiritual yang mendalam untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Tanda-Tanda dan Prediksi Waktu Lailatul Qadar
Walaupun keberadaan Lailatul Qadar adalah rahasia Allah Ta’ala, Abah Najib juga mengutip pendapat para ulama sebagai motivasi agar umat Islam tidak berputus asa dalam beribadah. Ia menyebut pendapat Imam Syafi’i bahwa malam mulia ini lebih sering muncul pada malam ke-21 atau ke-23 Ramadan.
Selain itu, ia juga membagikan rumus menarik yang selama ini dipakai dalam berbagai kajian untuk memperkirakan waktu Lailatul Qadar berdasarkan hari pertama puasa Ramadhan. Misalnya, jika puasa dimulai pada hari Sabtu, maka kemungkinan Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23 Ramadan.
Lailatul Qadar di Luar Ramadan?
Dalam konteks yang agak berbeda, Abah Najib juga menyinggung bahwa kemungkinan tanda-tanda malam mulia ini tidak hanya terbatas pada bulan puasa. Menurutnya, terdapat hubungan unik antara Lailatul Qadar dengan momentum-momentum tertentu di bulan lain seperti tanggal 10 Dzulhijjah dan 10 Muharram, yang juga kerap menjadi kesempatan umat meningkatkan ibadah dan dzikir.
Meskipun bukan menjadi bukti pasti waktu terjadinya Lailatul Qadar, penjelasan ini bertujuan untuk memperluas pemahaman bahwa Allah SWT membuka peluang bagi hamba-Nya untuk mencari keberkahan dengan maksimal sepanjang waktu, tidak hanya saat Ramadan.
Motivasi untuk Meningkatkan Ibadah Sepanjang Ramadan
Pesan yang disampaikan oleh Abah Najib berdasar pada semangat untuk menguatkan tekad dan komitmen umat dalam melaksanakan amalan yang benar-benar mencerminkan keimanan. Dengan demikian, pencarian malam Lailatul Qadar bukan sekadar soal waktu tepatnya malam itu datang, tetapi bagaimana seorang Muslim mampu menjalankan ibadah dengan penuh kesungguhan dan rasa syukur.
Hal ini selaras dengan ajaran banyak ulama bahwa Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat istimewa, bahkan disebut lebih baik dari seribu bulan dalam pahala amalan yang dilakukan pada malam tersebut. Semangat untuk tetap istiqamah dalam ibadah di sepanjang Ramadan menjadi esensi utama agar umat Muslim benar-benar merasakan keberkahan spiritualnya.
Dengan pendekatan yang lebih luas dan penuh motivasi seperti ini, umat diharapkan tidak hanya mengejar satu malam tertentu saja, tetapi menata hidup dan ibadahnya secara konsisten sepanjang Ramadan hingga terserap dalam keseharian keimanan mereka.