Panduan Investasi Halal: Memahami Perbedaan JII dan ISSI Syariah

Selasa, 24 Februari 2026 | 13:27:38 WIB
Panduan Investasi Halal: Memahami Perbedaan JII dan ISSI Syariah

JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) secara berkala melakukan evaluasi terhadap daftar indeks saham syariah. Bagi investor yang mengedepankan tata kelola syariah dalam portofolionya, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) merupakan dua acuan pokok yang digunakan untuk memantau pergerakan pasar.

Meski sama-sama menjadi representasi pasar modal syariah, kedua indeks ini memiliki metodologi, tujuan, dan cakupan yang berbeda secara fundamental. Perbedaan tersebut penting dipahami sebelum menentukan strategi investasi berbasis prinsip syariah di pasar modal Indonesia.

Perbedaan Mendasar JII dan ISSI

Perbedaan mendasar antara kedua indeks ini terletak pada kriteria seleksi yang diterapkan oleh otoritas bursa. ISSI merupakan indeks komposit yang bertindak sebagai indikator pasar syariah secara keseluruhan.

Indeks ini mencakup seluruh saham syariah yang tercatat di BEI, asalkan perusahaan tersebut terdaftar dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam penyusunannya, ISSI tidak menyaring saham berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar ataupun tingkat likuiditas transaksi.

Di sisi lain, JII dirancang sebagai indeks yang jauh lebih ketat dan eksklusif. Konstituen JII dipilih dari daftar saham yang sudah tergabung di dalam ISSI, yang kemudian disaring kembali untuk mencari 30 saham syariah unggulan.

Kriteria utama penyaringan JII adalah rata-rata kapitalisasi pasar terbesar dan tingkat likuiditas (nilai transaksi harian) paling tinggi di bursa. Oleh karena itu, JII merepresentasikan pergerakan saham-saham syariah kategori blue-chip.

Jumlah Konstituen yang Berbeda Signifikan

Perbedaan metodologi seleksi berdampak langsung pada jumlah saham yang masuk dalam masing-masing indeks. Berdasarkan hasil evaluasi mayor yang efektif digunakan saat ini, komposisinya menunjukkan selisih yang sangat lebar.

Total saham di ISSI: 631 saham.
Total saham di JII: 30 saham.

ISSI dengan 631 saham mencerminkan cakupan pasar syariah secara luas. Sementara itu, JII hanya memuat 30 saham pilihan yang telah melewati seleksi ketat dari sisi kapitalisasi dan likuiditas.

Struktur ini membuat karakter pergerakan kedua indeks menjadi berbeda. ISSI cenderung menggambarkan kondisi pasar syariah secara menyeluruh. Sedangkan JII lebih sensitif terhadap pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.

Komposisi Sektor dalam ISSI dan JII

ISSI merupakan indeks komposit yang menaungi 631 saham syariah. Pada daftar 30 teratas ini, terlihat bahwa sektor infrastruktur, pertambangan, dan teknologi memiliki kontribusi yang cukup signifikan. Berikut adalah penjabarannya.

Berbeda dengan ISSI, JII adalah indeks selektif yang secara spesifik hanya beranggotakan 30 saham syariah paling likuid dengan kapitalisasi pasar terbesar. Berikut adalah daftar keseluruhan anggota JII yang diurutkan berdasarkan bobotnya.

Perbedaan struktur ini membuat eksposur risiko dan volatilitas kedua indeks bisa berbeda. ISSI yang lebih luas berpotensi lebih terdiversifikasi. JII yang terkonsentrasi pada saham unggulan bisa bergerak lebih agresif mengikuti dinamika saham-saham besar.

Dominasi Grup Konglomerasi di Puncak Indeks

Menariknya, jika membedah 10 saham syariah berkapitalisasi terbesar teratas, pergerakan indeks JII maupun ISSI sangat dipengaruhi oleh pergerakan bisnis dari entitas grup konglomerasi raksasa di Indonesia. Lanskap pasar saham syariah di Indonesia memiliki konsentrasi bobot yang sangat erat kaitannya dengan peta kepemilikan para taipan.

Sebagai contoh, ekosistem bisnis milik Prajogo Pangestu menyumbang bobot yang sangat signifikan melalui PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA). Jika digabungkan, kedua emiten ini menguasai lebih dari 14% pergerakan indeks JII.

Selain itu, jejak konglomerasi lain juga terlihat mendominasi porsi atas. Pengaruh Grup Salim terasa kuat melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI). Hal ini beriringan dengan dominasi Grup Astra yang menjaga posisinya melalui induk usaha ASII dan lini alat beratnya, UNTR.

Di luar itu, terdapat pula representasi dari Grup Sinar Mas yang memegang posisi kedua terbesar melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), serta afiliasi Grup Bakrie dan Salim di sektor tambang mineral melalui PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).

Konsentrasi kapitalisasi pasar pada grup-grup konglomerasi ini membuat pergerakan indeks saham syariah seringkali sejalan dengan sentimen aksi korporasi, ekspansi, maupun dinamika sektoral dari grup-grup penguasa tersebut.

Struktur kepemilikan yang terpusat ini menjadi faktor penting dalam membaca arah indeks. Ketika emiten-emiten utama dalam grup tersebut mengalami tekanan atau lonjakan kinerja, dampaknya dapat langsung tercermin pada pergerakan JII maupun ISSI.

Bagi investor yang mempertimbangkan investasi halal di pasar modal, memahami perbedaan karakter ISSI dan JII menjadi langkah awal yang krusial. ISSI menawarkan gambaran menyeluruh pasar syariah. Sementara JII menghadirkan fokus pada saham-saham syariah unggulan dengan kapitalisasi dan likuiditas tertinggi.

Dengan memahami struktur, metodologi seleksi, serta dominasi grup konglomerasi di dalamnya, investor dapat menyesuaikan strategi investasi sesuai profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

Terkini