IHSG Sesi I Berbalik ke 6.496, Sektor Kesehatan Melonjak 5,28%

Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:37:00 WIB

BULETINFINANSIAL.COM — Tekanan jual yang sempat membuat IHSG jatuh hingga level 6.422,61 berhasil dilawan pelaku pasar. Indeks bahkan sempat menyentuh level tertinggi 6.532,17 sebelum akhirnya ditutup melemah 4,78 poin dari posisi penutupan sebelumnya di 6.501,66.

Koreksi IHSG terjadi di tengah bursa Asia yang kompak menguat. Kospi Korea Selatan memimpin dengan kenaikan 1,99%, disusul Taiwan yang naik 1,37%, dan Shenzhen menguat 1,23%.

Sektor Kesehatan Jadi Penyelamat, Perbankan Justru Menekan

Dari dalam negeri, sektor kesehatan menjadi penopang utama dengan lonjakan 5,28%. Sektor properti juga ikut menguat 2,24%, sementara barang baku dan energi masing-masing naik tipis 0,28% dan 0,14%.

Di sisi lain, sektor utilitas menjadi pemberat terdalam dengan koreksi 0,86%, diikuti teknologi yang turun 0,85%. Saham-saham perbankan besar ikut menekan indeks, dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi pemberat utama setelah kontribusinya mencapai minus 4,67 poin.

Saham Penopang: SRAJ Hingga Bayan Resources

PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) menjadi pendorong kenaikan terbesar IHSG dengan kontribusi 8,06 poin. Disusul PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) sebesar 5,22 poin dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang menyumbang 5,21 poin.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turut berkontribusi positif 3,72 poin, sementara PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menambah 1,98 poin. Total nilai transaksi pada sesi I mencapai Rp8,98 triliun dengan volume 232,12 juta lot.

Dari 788 Saham, Mayoritas Masih Melemah

Meski IHSG berhasil memangkas koreksi, kondisi pasar masih didominasi aksi jual. Sebanyak 419 saham tercatat melemah, sementara hanya 209 saham yang menguat dan 160 saham stagnan.

Pasar keuangan Indonesia baru kembali beroperasi setelah libur Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa. Pekan ini, investor domestik mencermati uji kelayakan calon Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, serta perkembangan pembentukan bursa mineral dan komoditas strategis.

Perang Dagang AS-Kanada Bayangi Sentimen Global

Dari mancanegara, pelaku pasar menanti data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS. Ketegangan dagang antara AS dan Kanada juga menjadi perhatian setelah Ottawa membalas tarif 50% dari Presiden Donald Trump dengan bea masuk baru untuk lebih dari 700 produk AS senilai sekitar US$20 miliar.

Selain itu, rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS periode Juli akan menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan moneter The Fed. Data ini dinilai sebagai indikator inflasi yang paling dipantau bank sentral AS dalam menentukan langkah suku bunga berikutnya.

Terkini