Update Pergerakan Harga Perak Antam Hari Ini 11 September 2026 Melemah

Update Pergerakan Harga Perak Antam Hari Ini 11 September 2026 Melemah
Update Pergerakan Harga Perak Antam (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tertekan pada sesi perdagangan Jumat, (11/9/2026). Penurunan harga perak Antam hari ini sejajar dengan pergerakan emas Antam beserta nilai perak global.

Melansir laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini terpangkas Rp 2.340 menuju Rp 41.860. Pada transaksi hari sebelumnya, harga perak Antam berada di posisi Rp 44.200.

Antam menyediakan produk perak batangan 250 gram, 500 gram serta perak butiran murni 99,95%. Antam menetapkan harga perak batangan 250 gram di angka Rp 10.990.000 dan 500 gram dipatok Rp 21.055.000. Lalu bagaimana kondisi perak internasional?

Melansir tradingeconomics.com, nilai perak internasional melorot 0,43% menjadi US$ 63,27. Nilai perak diperjualbelikan pada kisaran US$ 63,5 per ons pada Jumat setelah sempat terpangkas lebih dari 5% di transaksi sebelumnya, seiring pemodal bersiap mencermati data indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS) yang berpotensi menguatkan estimasi lonjakan suku bunga Federal Reserve pekan depan.

Laporan yang dirilis pada hari Kamis memperlihatkan akselerasi harga produsen AS pada Agustus dipicu konflik Iran yang memantik kenaikan biaya energi grosir.

Para pelaku pasar kini memperhitungkan peluang mendekati 71% bagi penyesuaian suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pekan depan, naik dibanding 61% sebelum data indeks harga produsen (PPI) tersebut dirilis.

Komoditas perak juga tertekan imbas lonjakan harga minyak di tengah eskalasi konflik AS-Iran, yang memancing kecemasan akan kenaikan inflasi.

Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) melonjak usai Departemen Keuangan AS mencatat volume pembelian kembali (buyback) yang lebih rendah dari ekspektasi dalam operasi perluasan buyback awalnya.

Instrumen yang tidak memberikan imbal hasil bunga, seperti perak, rentan mencatatkan kinerja lebih tertekan ketika imbal hasil obligasi merangkak naik.

Perak diprediksi bakal mencatatkan pelemahan sekitar 4% pada pekan ini, yang menegaskan penurunan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.

Sebelumnya, nilai emas global terperosok lebih dari 1% pada sesi perdagangan Kamis, 10 September 2026 (Jumat pagi Jakarta).

Pelemahan harga emas terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang kuat beserta lonjakan harga minyak memicu spekulasi terkait kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) pekan depan.

Melansir CNBC, Jumat (11/9/2026), nilai emas spot melorot 0,9% menjadi US$ 4.359,19 per ons.

Sementara itu, nilai emas berjangka AS menyusut 1,3% menjadi US$ 4.402,5.

Analis Keuangan Senior Capital.com, Klye Rodda menuturkan,dData indeks harga produsen "mengindikasikan adanya sedikit peningkatan inflasi inti dalam ekonomi AS, dan sebagian di antaranya disebabkan oleh kenaikan biaya energi. Harga produsen AS meningkat sesuai perkiraan pada Agustus di tengah pemulihan biaya produk energi.

Para pemain pasar saat ini menaksir peluang berkisar 68% untuk kenaikan suku bunga pekan depan, terangkat dari 62% sebelum data tersebut dirilis, menurut CME FedWatch Tool.

Mayoritas ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan The Federal Reserve (the Fed) akan menjaga suku bunga tetap stabil pada rapat 15-16 September dan hingga sisa tahun ini.

Mata uang Dolar AS terpantau menguat tipis, menjadikan emas, yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi makin mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Di samping itu, penguatan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun turut menekan nilai emas.

“Pasar obligasi harus mencerminkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dan persisten akibat kenaikan harga minyak, yang menyebabkan penurunan harga emas,” Rodda menambahkan.

Lonjakan imbal hasil obligasi umumnya menekan nilai emas lewat peningkatan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang instrumen yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Nilai minyak melonjak 4% pada Kamis, dengan minyak mentah Brent menyentuh posisi US$ 105 per barel, setelah kenaikan serangan terbesar terhadap kapal pengangkut sejak pecahnya konflik AS-Iran memicu kekhawatiran terkait hambatan pasokan.

Di saat bersamaan, Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis mengerek suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini, guna membendung lonjakan inflasi imbas energi yang dipantik oleh perang tersebut.

Di antara logam lainnya, nilai perak spot melorot 4% menjadi US$ 64,56 per ons, platinum melorot 4,6% menjadi US$ 1.808,43, serta paladium melorot 3,9% menjadi US$ 1.300,00.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index