OJK Siapkan Tiga Strategi Utama Sektor Keuangan Sokong Ekonomi 2027

OJK Siapkan Tiga Strategi Utama Sektor Keuangan Sokong Ekonomi 2027
OJK Siapkan Tiga Strategi Utama Sektor Keuangan (FOTO: NET)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan menyiapkan tiga strategi sektor jasa keuangan untuk menyokong target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027.

OJK hendak memaksimalkan intermediasi, memperdalam pasar modal, serta memperluas sumber pembiayaan nonbank dan sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan sektor jasa keuangan nasional mempunyai modal yang kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada 2027.

Permodalan yang mencukupi serta profil risiko yang terkendali memberikan ruang bagi industri keuangan untuk memperbesar fungsi intermediasi.

"Ketahanan sektor jasa keuangan nasional menjadi salah satu modal penting untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi tahun 2027,” kata Friderica dalam Raker DPR RI dengan pemerintah terkait pengantar asumsi dasar RUU APBN 2027 di Gedung DPR, Selasa (1/9/2026).

OJK hendak mendorong perbankan meningkatkan pembiayaan kepada sektor produktif serta program prioritas nasional.

Kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58% secara tahunan, dengan kredit investasi tumbuh 25,13% dan kredit modal kerja tumbuh 11,04%.

OJK mencatat penguatan intermediasi itu didukung permodalan serta likuiditas perbankan yang solid.

Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan mencapai 23,84%, sementara Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 23,10% dan rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) mencapai 102,45%.

OJK pula hendak mempercepat reformasi pasar modal untuk memperkuat pembiayaan investasi nasional pada 2027.

IHSG telah menguat sekitar 20% dari titik terendah pada awal 2026, sedangkan fundamental emiten menunjukkan perbaikan lewat pertumbuhan pendapatan serta profitabilitas pada kuartal II 2026.

OJK hendak memperkuat keterbukaan, penegakan hukum, perlindungan investor, serta integritas pasar untuk meningkatkan daya saing pasar modal.

OJK pula hendak memperkuat basis investor domestik untuk meningkatkan ketahanan dan kedalaman pasar.

Dari sisi pembiayaan nonbank, OJK mencatat pembiayaan pergadaian tumbuh 50,73% secara tahunan pada Juli 2026.

OJK pula mencatat pinjaman daring tumbuh sekitar 24%, fintech lending tumbuh 31,22%, dan pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 54,65%.

OJK pula hendak mengembangkan sumber pertumbuhan baru lewat bullion bank, nilai ekonomi karbon, serta bursa mineral dan komoditas strategis (BMKS).

Ekosistem tersebut ditargetkan memperluas sumber pembiayaan sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik.

Kegiatan bullion mencatat total emas yang dikelola sekitar 19,09 ribu kilogram atau setara Rp 61,5 triliun dengan sekitar 1,4 juta rekening.

OJK menilai perkembangan tersebut menunjukkan penguatan ekosistem emas nasional sekaligus membuka alternatif investasi serta pembiayaan berbasis emas.

OJK hendak memperkuat pembiayaan UMKM lewat literasi keuangan, business matching, kebijakan akses pembiayaan, dan penguatan ekosistem pembiayaan.

OJK pula menerapkan POJK Nomor 19 Tahun 2025 untuk menyederhanakan akses pembiayaan UMKM.

Friderica menyampaikan OJK hendak menjaga stabilitas sektor jasa keuangan lewat penguatan intermediasi, pendalaman pasar, diversifikasi pembiayaan, dan perlindungan konsumen.

Rencana tersebut menjadi bagian dari dukungan OJK terhadap agenda pertumbuhan ekonomi nasional pada 2027.

"Kami berkomitmen menjaga sektor jasa keuangan tetap kuat, stabil, inklusif, dan berdaya saing, sehingga mampu memberikan kontribusi optimal bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” ujar Friderica.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index