JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, tingkat ketidakpastian perekonomian dunia sampai sekarang masih terbilang besar, yang berdampak pada sudut pandang pemerintah ketika merancang APBN 2027.
Ia menuturkan, bahkan ada sejumlah ancaman eksternal yang diprediksi terus berlangsung hingga tahun depan, serta mengganggu aktivitas ekonomi domestik.
"Berbagai risiko eksternal mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan global, hingga proteksionisme yang semakin menguat, terus membayangi prospek perekonomian dunia,” ujar Purbaya dari Sumbernya saat rapat kerja pengantar asumsi dasar RUU APBN 2027 bersama Komisi XI DPR, Jakarta, Selasa (1/92026).
Purbaya mengutarakan, akar utama ketidakpastian yang berpotensi terus berlangsung dan menjadi bahaya pada 2027 di antaranya gangguan rantai pasok, tingginya harga energi, inflasi yang persisten tinggi, investasi menyusut, sampai perlambatan pertumbuhan.
"Kondisi tersebut berdampak pada terganggunya rantai pasok, volatilitas harga komoditas, tekanan pada inflasi, suku bunga, dan nilai tukar, yang pada gilirannya berdampak pada perlambatan ekonomi global, termasuk Indonesia juga,” kata Purbaya dari Sumbernya.
Situasi tersebut bahkan menurutnya turut memicu dilema kebijakan di kalangan pemerintah serta bank sentral berbagai negara, termasuk Indonesia, yaitu berupaya meredam potensi tekanan inflasi seraya tetap memacu ekspansi lebih cepat.
"Situasi ini menciptakan tantangan yang tidak mudah bagi otoritas moneter dan fiskal di berbagai negara, satu sisi inflasi dijaga di tingkat terkendali, tapi di sisi lain pengetatan kebijakan yang terlalu agresif berisiko tahan aktivitas perekonomian dan perlambat pertumbuhan,” tuturnya dari Sumbernya.