BULETINFINANSIAL.COM — Kesepakatan ini menandai konsolidasi terbesar di industri pengiriman makanan on-demand dalam beberapa tahun terakhir. Uber, yang sebelumnya sudah menjadi pemegang saham terbesar Delivery Hero, menetapkan ambang batas minimal persetujuan sebesar 50% plus satu saham dari total modal yang beredar.
Nilai Tawaran dan Alasan Restrukturisasi
Dewan pengawas dan manajemen Delivery Hero menilai harga yang ditawarkan sudah "adil dan memadai". Aksi korporasi ini disebut memiliki potensi untuk mempercepat inovasi produk bagi kedua perusahaan.
Angka US$15 miliar tersebut setara dengan sekitar Rp 247 triliun dengan estimasi kurs Rp 16.500 per dolar AS. Bagi para pemegang saham Delivery Hero di Indonesia, kesepakatan ini patut dicermati karena berpotensi mengubah peta persaingan layanan pesan-antar makanan secara global, termasuk dampaknya terhadap operasional di Asia Tenggara.
Dampak pada Pangsa Pasar dan Kompetitor
Jika deal ini rampung, jangkauan pasar Uber akan berlipat ganda dan menjadikan platformnya salah satu yang terbesar di luar China. Posisi ini sekaligus memperkuat daya saing Uber melawan DoorDash dan Just Eat Takeaway di pasar internasional.
Uber juga mendapat tambahan amunisi dari pemegang saham lainnya. Prosus, investor teknologi asal Belanda yang juga pemegang saham besar Delivery Hero, telah setuju untuk menjual 17% sahamnya sebagai bagian dari transaksi ini.
Strategi Divestasi dan Konsolidasi Industri
Sebelum kesepakatan ini diumumkan, Delivery Hero sebelumnya telah menyetujui penjualan bisnisnya di 14 negara yang sudah menjadi area operasi Uber Eats. Unit bisnis tersebut dilepas ke SSW Partners, firma investasi asal New York, dengan nilai US$1,6 miliar atau sekitar Rp 26 triliun.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Uber untuk merampingkan operasi dan fokus pada pasar-pasar utama. Tren konsolidasi memang tengah terjadi di industri ini selama 18 bulan terakhir. Uber sebelumnya mengakuisisi perusahaan asal Turki, Getir, senilai US$335 juta. Grab juga membeli bisnis Foodpanda Delivery Hero di Taiwan sebesar US$600 juta tunai, sementara DoorDash mengakuisisi Deliveroo asal Inggris dengan nilai US$3,87 miliar.
Apa Dampaknya bagi Pengguna di Indonesia?
Bagi konsumen Indonesia yang terbiasa dengan layanan GoFood, GrabFood, atau ShopeeFood, akuisisi ini tidak akan langsung mengubah layanan lokal. Namun, konsolidasi global ini menandakan efisiensi menjadi prioritas utama para pemain besar karena persaingan harga yang ketat menekan margin keuntungan.
Ke depannya, pengguna bisa mengharapkan inovasi fitur yang lebih cepat dari platform global pasca-penggabungan, meski persaingan dengan pemain lokal di masing-masing negara tetap menjadi tantangan tersendiri.