BULETINFINANSIAL.COM — Angka pengungsi tersebut dilaporkan per Minggu (30/8), turun 4.142 jiwa dibandingkan hari sebelumnya. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebut pengurangan terjadi di Kabupaten Nagekeo, Manggarai Timur, dan Ngada.
Korban Jiwa dan Gempa Susulan
BNPB memastikan tidak ada penambahan korban meninggal dunia. Hingga kini, jumlah korban tewas tercatat 111 orang.
Untuk korban luka, total mencapai 1.631 orang dengan rincian 223 orang luka berat dan 1.408 orang luka ringan. Data ini menjadi dasar bagi tim medis untuk memprioritaskan penanganan di lokasi pengungsian.
Aktivitas seismik di wilayah NTT masih tinggi. BNPB mencatat telah terjadi 9.765 gempa susulan hingga Minggu kemarin, dengan magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil magnitudo 1.
"Gempa-gempa seperti ini kami tetap sampaikan bisa dialami hingga 3 sampai 4 minggu setelah gempa pertama terjadi," ujar Berton dalam konferensi pers di Jakarta.
Perpanjangan Status Tanggap Darurat
Keputusan perpanjangan status tanggap darurat selama 14 hari diambil Gubernur NTT Emmanuel Melkiades Laka Lena. Ini merupakan perpanjangan pertama sejak gempa utama terjadi pada 15 Agustus lalu.
Berton menjelaskan, perpanjangan masa tanggap darurat penting untuk memastikan penyaluran logistik dan bantuan lain berjalan tanpa hambatan administrasi. Dengan status ini, pemerintah daerah memiliki dasar hukum yang kuat untuk menggerakkan seluruh sumber daya yang ada.
"Saat ini kita sudah mendapatkan perpanjangan selama 14 hari ke depan hingga status tanggap darurat diperpanjang sampai 12 September 2026," kata Berton saat mengumumkan perpanjangan tersebut pada Sabtu (29/8).
Fokus penanganan berikutnya adalah memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi, termasuk hunian sementara bagi warga yang rumahnya rusak. BNPB bersama pemerintah daerah masih melakukan pendataan kerusakan infrastruktur untuk menentukan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi pascatanggap darurat.