Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.685/US$ Meski Dolar AS Bangkit Kembali

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.685/US$ Meski Dolar AS Bangkit Kembali

BULETINFINANSIAL.COM — Pergerakan rupiah pekan ini diwarnai aksi jual asing yang sempat menekan mata uang Garuda. Namun, pada perdagangan akhir pekan, rupiah justru menunjukkan daya tahan yang solid. Data Refinitiv mencatat, rupiah yang sempat dibuka menguat tipis 0,03% di level Rp17.710/US$ berhasil menambah momentum penguatannya sekitar 25 poin hingga penutupan pasar.

Hasil ini sekaligus membalikkan koreksi yang terjadi sehari sebelumnya. Pada Kamis (27/8/2026), rupiah sempat terdepresiasi 0,11% ke posisi Rp17.715/US$.

Sentimen Domestik Menang Atas Tekanan Eksternal

Di pasar global, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat tipis 0,02% ke level 99,174 pada pukul 15.00 WIB. Sepanjang pekan ini, dolar AS bahkan tercatat menguat sekitar 0,35%, membalikkan penurunan 0,83% pada pekan sebelumnya.

Penguatan dolar AS tersebut biasanya menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun, kali ini ada faktor lain yang lebih dominan: kepastian siapa yang akan memimpin bank sentral Indonesia untuk lima tahun ke depan.

Kepastian Pimpinan Baru BI Jadi Katalis Penguatan

Komisi XI DPR RI telah menyetujui Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI periode 2026-2031 melalui musyawarah mufakat pada Kamis (27/8/2026). Destry, yang merupakan calon tunggal yang diajukan Presiden Prabowo Subianto, akan menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dari jabatannya pada 25 Juli 2026.

"Komisi XI DPR RI berdasarkan musyawarah untuk mufakat menyetujui dan menetapkan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031," ujar Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun.

Selain Destry, Komisi XI DPR juga menyetujui Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI dan Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI. Ketiganya akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR pada Selasa (1/9/2026) sebelum akhirnya dilantik di Mahkamah Agung.

Mengapa Kepastian Ini Penting bagi Pasar?

Kejelasan mengenai susunan pimpinan baru BI memberikan sinyal kuat kepada pelaku pasar tentang kesinambungan kebijakan moneter. Investor membutuhkan kepastian bahwa bank sentral akan tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi global.

Ketidakpastian kepemimpinan sering kali menjadi pemicu keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik. Dengan terpilihnya Destry, yang merupakan sosok dengan pengalaman panjang di sektor keuangan, pasar menilai arah kebijakan BI ke depan akan tetap konsisten dan dapat diprediksi.

Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati pidato Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat waktu setempat. Pernyataan Warsh akan menjadi petunjuk utama arah suku bunga AS, mengingat tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS yang turut memperketat kondisi keuangan global. Hal ini berpotensi membatasi ruang apresiasi rupiah lebih lanjut dalam beberapa pekan ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index