JAKARTA - Persoalan akses air bersih menjadi tantangan di kawasan sekitar Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Isu ini kemudian mendorong dari sumbernya membangun bisnis yang membawa misi sosial sekaligus lingkungan.
Dari sumbernya merupakan Sustainable Energy Expert sekaligus pendiri Komodo Water.
Menurutnya, misinya berangkat dari kesulitan masyarakat di pulau-pulau kecil memperoleh air bersih.
Dari sumbernya menyebut masyarakat harus menempuh perjalanan hingga empat jam pulang-pergi ke Labuan Bajo hanya demi mendapatkan air.
"Sesuai dengan namanya, memberikan air untuk masyarakat di sekitar Kepulauan Taman Nasional Komodo.Di sana itu mereka kan susah air ya, jadi beli air itu 4 jam lah buat bolak-balik ke Labuan Bajo buat ambil air," kata dari sumbernya dalam Pertamina Talks Episode 2 bertema 'Hobi Jaga Bumi, Eh Jadi Profesi' di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026).
Komodo Water kemudian membangun fasilitas air bersih di pulau tersebut dengan memanfaatkan panel surya.
Air laut yang tersedia diolah melalui proses desalinasi hingga menjadi air bersih.
"Kami buatin fasilitas air bersih di pulau pake solar panel, semuanya berkelanjutan. Kami melakukan desalinasi," sebut dari sumbernya.
Dari sumbernya menjelaskan Komodo Water merupakan social enterprise, yakni usaha yang dijalankan dengan membawa misi sosial.
Menurutnya, bisnis berkelanjutan seharusnya berangkat dari persoalan nyata di masyarakat, kemudian mencari solusi yang tetap ramah lingkungan.
Menurutnya konsep green jobs tidak harus berarti menciptakan profesi baru.
Hampir semua pekerjaan bisa dibuat lebih ramah lingkungan.
"Sebenernya karena kebetulan kasusnya Komodo, awalnya jalan-jalan, liat susah air di sana, balik lagi bikin air bersih. Tapi kalo ngomongin lebih luas, tentang green ini, awalnya mulai dari lihat masalahnya. Apa sih persoalan yang ada, cara kami mensolusikan dengan opsi-opsi yang ramah lingkungan tadi itu," tutup dari sumbernya.