Keberhasilan Danantara Bukan dari Transaksi tapi Efek Fiskal

Keberhasilan Danantara Bukan dari Transaksi tapi Efek Fiskal
Nilai Transaksi. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Rizal Taufikurrahman selaku Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance menganggap PT Danantara Sumber Daya Indonesia mempunyai potensi kuat guna mengokohkan perekonomian bangsa.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa tolak ukur pencapaian lembaga tersebut tidak boleh sekadar dinilai dari besaran transaksi yang diawasi.

Berdasarkan keterangan dari Sumbernya, parameter pencapaian yang jauh lebih penting yaitu kapasitas DSI di dalam menutupi celah kebocoran pendapatan negara.

Hal ini meliputi penyelesaian tindakan under-invoicing, transfer pricing, hingga deviasi harga ekspor yang selama ini merugikan negara.

“Jika itu efektif, basis pajak, PNBP, royalti, dan devisa hasil ekspor yang masuk ke dalam negeri akan meningkat. Jadi efek fiskalnya berasal dari perbaikan governance dan kepatuhan, bukan semata dari aktivitas perdagangan yang lebih besar,” ujar Rizal saat dihubungi, Selasa (25/8).

Dari sudut pandang ekonomi makro, Rizal melihat PT DSI berpotensi besar memperbanyak persediaan valuta asing di pasaran dalam negeri.

Kehadiran DSI ditargetkan sanggup menjamin Devisa Hasil Ekspor tercatat secara tepat serta dikembalikan ke dalam sistem keuangan negara.

“Semakin besar devisa ekspor yang tercatat, direpatriasi, dan bertahan di sistem keuangan nasional, semakin kuat dukungannya terhadap Rupiah dan stabilitas eksternal,” jelasnya.

Walaupun demikian, ia menyampaikan catatan bahwasanya pengaruh besar itu hanya akan terwujud apabila DSI terhubung secara menyeluruh bersama aturan DHE, dunia perpajakan, kepabeanan, serta pengawasan transaksi lintas negara secara ketat.

Di sisi lain, Rizal memperingatkan pihak pemerintah agar kemunculan PT DSI tidak menjadi beban anyar bagi kalangan pengusaha.

Ia mewanti-wanti agar badan ini tidak berubah menjadi lapisan birokrasi tambahan yang justru menaikkan ongkos ekspor.

Titik berat utama DSI, sambungnya, harus tetap berfokus pada keterbukaan harga, penyatuan data, serta penegakan hukum tanpa mengorbankan kelancaran operasional.

“Kalau governance-nya kuat, DSI bisa menjadi instrumen penting untuk memperkuat penerimaan negara sekaligus ketahanan eksternal. Tetapi kalau implementasinya tidak efisien, manfaat devisa yang diperoleh bisa tergerus oleh penurunan daya saing eksportir,” pungkas Rizal

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index