Kebakaran Landa Desa Adat Sade, Naskah Kuno Hangus

Kebakaran Landa Desa Adat Sade, Naskah Kuno Hangus
Kondisi terkini Desa Adat Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat. ( sumber : net )

JAKARTA - Peristiwa kebakaran hebat menimpa kawasan Desa Adat Sade yang terletak di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada hari Sabtu malam.

Musibah amukan api tersebut melalap habis puluhan bangunan rumah tradisional beserta beragam benda pusaka peninggalan warisan kebudayaan suku Sasak.

Merujuk pada himpunan informasi dari pihak Kementerian Kebudayaan, insiden si jago merah itu meletup sekitar pukul 22.05 WITA.

Penyebab utama dari timbulnya api diduga kuat bersumber dari masalah hubungan arus pendek instalasi listrik atau korsleting.

Kondisi jalur perkabelan listrik yang saling berdempetan rapat disinyalir menjadi pemicu utama kemunculan api.

Api lantas menjalar dengan sangat cepat dikarenakan jarak renggang antarbangunan di permukiman tersebut berdiri saling berhimpitan.

Bahan material atap rumah yang terbuat dari jerami atau alang-alang kering terbukti sangat mudah terbakar, sehingga membuat kobaran api kian sukar dikendalikan hingga meluas ke seluruh penjuru Desa Adat Sade.

Dampaknya, terjadilah kerusakan berskala masif yang memukul telak ekosistem kebudayaan berdimensi fisik maupun non-fisik di Desa Adat Sade.

Pihak Kementerian Kebudayaan mencatat ada sebanyak 167 unit aset bangunan yang mengalami dampak kerusakan langsung.

Rinciannya mencakup 75 unit rumah adat tradisional serta 69 unit toko kerajinan tangan atau artshop yang ludes terbakar.

Di samping itu, delapan bangunan Lumbung Alang ikut musnah dilalap api.

Dampak musibah kebakaran ini turut pula menerpa 12 unit rumah panggung tradisional khas masyarakat Suku Sasak.

Kendati demikian, kerusakan yang ditimbulkan akibat insiden tersebut tidak sekadar menyasar bangunan fisik semata.

Beraneka macam benda pusaka serta warisan luhur kebudayaan suku Sasak yang menyimpan nilai historis serta spiritual teramat tinggi pun turut musnah terbakar.

"Di antaranya adalah berbagai jenis keris, tombak, klewang (setiap keluarga rata-rata kehilangan 3-4 bilah keris yang tidak sempat diselamatkan), 10 set peralatan seni Peresean, 8 unit Gendang Beleq (4 unit berhasil diselamatkan), serta kemusnahan Gong Tua ritual dan naskah-naskah kuno berbahasa Sanskerta," tulis dari Sumbernya.

Menteri Kebudayaan dari Sumbernya mengutarakan bahwa pemerintah saat ini menempatkan prioritas tertinggi pada upaya penyelamatan serta identifikasi terhadap peninggalan warisan budaya yang masih tersisa di area bekas kebakaran.

"Prioritas utama dalam fase tanggap darurat ini adalah mengamankan dan mengidentifikasi seluruh objek material yang tersisa, baik penyelamatan fisik maupun non-fisik. Penyelamatan fisik dengan menyisir sisa-sisa reruntuhan demi menyelamatkan sisa kain tenun (wastra), benda pusaka (keris/tombak), dan fragmen manuskrip kuno yang hangus dan penyelamatan non-fisik, yaitu mendokumentasikan ingatan, cerita rakyat, sejarah lokal, dan pengetahuan tradisional langsung dari para tetua adat agar memori kolektif masyarakat Sade," ungkap dari Sumbernya.

Seluruh rangkaian aksi penyelamatan tersebut ditempuh lantaran warisan budaya Desa Adat Sade wujudnya tidak hanya terbatas pada bangunan fisik saja, melainkan mencakup artefak benda serta pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun oleh warga Sasak.

Perlu diketahui, Desa Adat Sade telah lama mendapat pengakuan resmi sebagai kawasan desa wisata semenjak tahun 1982.

Selanjutnya pada tahun 1993, wilayah perkampungan adat tersebut memperoleh ketetapan dari Kementerian Pariwisata sebagai elemen esensial dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.

Ke depannya, jajaran pemerintah pusat bersama pemerintah daerah bakal mengorkestrasikan serangkaian langkah penanganan pemulihan.

Langkah-langkah tersebut mencakup penyelamatan objek kebudayaan, pendataan inventarisasi, proses digitalisasi manuskrip kuno, hingga penguatan sistem mitigasi kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index