JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi tetap menahan suku bunga acuan BI Rate pada posisi 5,75% pada agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung 18-19 Agustus 2026.
"Untuk RDG pekan depan, base case kami BI masih akan menahan BI Rate di 5,75%," ujar Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz dari Sumbernya, Senin (17/8/2026).
Menurut Irman, terangkatnya mata uang rupiah dalam beberapa waktu belakangan dan membaiknya iklim makroekonomi global menjadikan BI belum perlu terburu-buru mendongkrak tingkat suku bunganya.
Sebagai informasi, posisi nilai tukar rupiah di pasar spot pada Senin (17/8/2026) diakhiri menguat pada angka Rp 17.798 per dolar Amerika Serikat (AS).
Dibanding penutupan hari Jumat (14/8/2026) yang berada di posisi Rp 17.827 per dolar AS, mata uang rupiah turut menguat sebesar 0,16%.
Selain hal itu, laju inflasi Amerika Serikat (AS) serta data ketenagakerjaan yang melesu membuat penguatan mata uang dolar AS tertahan.
Menurut Irman, situasi tersebut memberikan ruang bagi BI guna mempertahankan tingkat suku bunga selama tekanan terhadap rupiah masih bisa dikontrol via tindakan intervensi dan instrumen penyeimbang lainnya.
Namun, Irman menilai kecenderungan arah kebijakan BI masih condong hawkish.
Sehingga Ia memperkirakan BI masih memberikan peluang kenaikan suku bunga pada paruh kedua tahun 2026 jika saja tekanan kepada mata uang rupiah kembali terangkat.
"Kami masih melihat ruang kenaikan suku bunga di paruh dua 2026 ini apabila tekanan rupiah kembali meningkat, dengan terminal rate kami di 6,25% pada akhir tahun," katanya.
Irman menganggap pertimbangan BI dalam mengeksekusi kebijakan pada RDG Agustus ini juga akan menimbang situasi pertumbuhan ekonomi serta likuiditas dalam negeri.
Oleh sebab itu, BI diperkirakan bakal lebih mendahulukan langkah kebijakan non-suku bunga demi menjaga kestabilan rupiah.
"Dari sisi domestik, inflasi masih relatif manageable dan pertumbuhan serta konsumsi mulai menunjukkan moderasi, sehingga belum ada urgensi menaikkan suku bunga dari sisi demand pressure," jelasnya.
Menurut penjelasannya, potensi risiko terbesar justru bersumber dari faktor eksternal, seperti arah pergerakan suku bunga AS dan imbal hasil US Treasury, dinamika dolar AS, harga minyak dunia, serta keberlanjutan arus modal asing.
Selagi tekanan pada rupiah masih sanggup diredam tanpa menaikkan suku bunga, BI dianggap masih mengantongi alasan untuk menahan posisi BI Rate.
"Rate hike akan menjadi opsi ketika tekanan FX mulai lebih persisten dan berpotensi mengganggu ekspektasi inflasi maupun stabilitas pasar," ujar Irman.
Lebih lanjut Irman menganggap, BI mesti memadukan kebijakan suku bunga dengan langkah intervensi terukur beserta pendalaman pasar valuta asing (valas).
Menurutnya intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN) dinilai tetap krusial demi meredam gejolak rupiah.
Akan tetapi, upaya tersebut wajib diimbangi dengan penguatan underlying transaksi valas, instrumen lindung nilai (hedging) yang makin kompetitif, serta menjaga daya pikat aset rupiah di mata investor luar negeri.
"Stabilitas rupiah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi saja, konsistensi bauran kebijakan dan kredibilitas BI tetap menjadi jangkar utama," katanya.
Terkait proyeksi mendatang, Irman masih memprediksi rupiah berpotensi diterpa tekanan dan volatilitas pada kuartal III-2026 akibat dinamika geopolitik dan arah kebijakan dari The Fed.
"Base case kami nilai tukar rupiah bergerak (kuartal III) di rata-rata Rp 18.130 per dolar AS sebelum menguat pada kuartal IV ke arah Rp 17.900-an," ujar Irman.
Pihaknya menilai pada kuartal IV tensi geopolitik bakal melandai, sehingga memberikan dampak positif bagi pergerakan EM currencies termasuk rupiah.