Tekanan Likuiditas Mengancam Kemampuan Perbankan Rusia Beli Obligasi

Tekanan Likuiditas Mengancam Kemampuan Perbankan Rusia Beli Obligasi
Ilustrasi Bank Rusia (FOTO: NET)

JAKARTA - Lembaga perbankan di negara Rusia mulai merasakan himpitan likuiditas pada mata uang lokal rubel.

Situasi tersebut menekan kapasitas bank dalam menyerap surat utang negara demi menutupi defisit kas, sehingga memicu kekhawatiran atas usaha Moskow menambal lonjakan biaya militer lewat pinjaman dalam negeri.

Menyadur laporan The Moscow Times, Selasa, sinyal bahaya tersebut mencuat di tengah membengkaknya defisit kas Kementerian Keuangan Rusia yang diproyeksikan memerlukan suntikan pinjaman ekstra hingga triliunan rubel tahun ini.

Dari sumbernya memaparkan bahwa sejak awal tahun telah terjadi pengurasan dana tunai dari ekosistem perbankan mendekati 2 triliun rubel atau sekitar US$ 25,2 miliar.

Fenomena ini mengakibatkan cadangan dana perbankan kian menipis.

"Saat ini, bank hanya memiliki dana yang cukup untuk dipinjamkan kepada nasabah. Itulah bisnis inti mereka," kata dari sumbernya seperti dikutip Reuters.

"Anda dapat membeli obligasi OFZ, terutama tanpa premi yang signifikan, ketika Anda memiliki likuiditas berlebih dan yakin bahwa likuiditas tersebut akan tetap tersedia. Saat ini, situasinya justru sebaliknya," tambahnya.

Instrumen OFZ adalah surat berharga negara berbasis mata uang rubel yang dirilis oleh Kementerian Keuangan Rusia untuk menyokong operasional negara.

Berdasarkan publikasi Bloomberg, postur anggaran pemerintah pusat Rusia menderita defisit mencapai 5,7 triliun rubel atau senilai US$ 71,82 miliar pada separuh pertama 2026, akibat membengkaknya pos pertahanan melebihi estimasi awal.

Alokasi dana perang Moskow diperkirakan bakal membengkak melampaui plafon anggaran tahunan sebesar 4 triliun sampai 5 triliun rubel (US$ 50,4 miliar hingga US$ 63 miliar).

Realita ini menuntut Kementerian Keuangan guna menggalang dana pinjaman susulan sebesar 2 triliun hingga 3 triliun rubel (US$ 25,2 miliar hingga US$ 37,8 miliar).

Padahal, pada dokumen anggaran 2026, pihak pemerintah awalnya sekadar mematok target pinjaman dalam negeri senilai 4,4 triliun rubel atau sekitar US$ 55,44 miliar.

Kendati begitu, Kementerian Keuangan memutuskan menghentikan sementara penawaran obligasi negara pada bulan Juli setelah nilai jual OFZ merosot dan imbal hasilnya melonjak.

Dampaknya, jajaran bank pemilik instrumen surat utang tersebut harus menanggung kerugian penilaian harga pasar mencapai 200 miliar rubel atau setara US$ 2,52 miliar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index