JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir mendatar dengan kenaikan tipis 0,03% ke level 6.039,52 pada Selasa (14/7/2026). Aksi ambil untung (profit taking) pada jajaran saham perbankan berkapitalisasi besar sukses menahan penguatan indeks yang terjadi sebelumnya.
Menurut Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda, tekanan jual pada saham kakap seperti BBRI, BBCA, dan BMRI menjadi faktor utama hambatan tersebut. “Pergerakan indeks tertahan oleh aksi profit taking pada saham perbankan besar, meskipun saham komoditas dan konglomerasi seperti BRMS, BREN, dan ENRG masih menjadi penopang indeks,” kata Reza sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Sentimen dari dalam negeri relatif positif berkat langkah S&P Global Ratings yang mempertahankan rating kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. Hal tersebut diyakini Reza mampu mempertahankan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi dan fiskal domestik.
Sementara itu, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta masalah di Selat Hormuz dibayangi potensi memicu kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak. “Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati menjelang rilis inflasi AS dan mencermati arah kebijakan The Fed,” jelasnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Menatap perdagangan Rabu (15/7/2026), IHSG diperkirakan mengalami fase konsolidasi dengan pergerakan yang tidak terlalu lebar. “Kami memproyeksikan IHSG cenderung bergerak terbatas dan konsolidatif dengan support psikologis di 6.000 dan resistance di kisaran 6.100–6.130,” ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Setelah mencetak reli sebelumnya, pelaku pasar kini menanti kehadiran stimulus atau katalis baru di lantai bursa. Perhatian investor tertuju pada tensi geopolitik Timur Tengah, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta data inflasi Amerika Serikat terbaru.
“Konsensus memperkirakan inflasi tahunan AS melandai ke sekitar 3,8% dari 4,2% pada Mei, sementara inflasi inti diproyeksikan sekitar 2,8% YoY,” paparnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Reza berpendapat bahwa data inflasi yang lebih rendah dari proyeksi akan disambut positif oleh pelaku pasar modal. “Sebaliknya, inflasi yang kembali tinggi berpotensi memperkuat dolar AS dan menambah tekanan terhadap rupiah,” tambahnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Investor dapat mencermati saham WIFI untuk area beli Rp 1.750–Rp 1.800 dengan target Rp 1.880–Rp 1.965 dan stop loss di bawah Rp 1.740. Selain itu, SRTG layak dikoleksi pada kisaran Rp 1.595–Rp 1.620 dengan target Rp 1.655–Rp 1.690 dan stop loss di bawah Rp 1.600. Pilihan berikutnya adalah BIPI pada area beli Rp 136–Rp 144 dengan target Rp 151–Rp 168 serta stop loss di bawah Rp 135.