JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) dilaporkan mengalami penurunan sebesar 2,25% dalam waktu 24 jam terakhir ke posisi $62.136 pada hari Kamis pagi. Penurunan nilai ini terjadi akibat adanya peningkatan konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu penjualan besar-besaran pada aset berisiko sejak awal minggu.
Penurunan ke level $62.136 ini terjadi setelah aset kripto tersebut sempat mengalami kenaikan sebesar 4,04% pada pekan sebelumnya. Akibatnya, nilai kapitalisasi pasar Bitcoin menyusut hingga kisaran $1,24 triliun dengan rata-rata penurunan pasar kripto secara umum mencapai hampir 2% dalam sehari.
Faktor utama dari koreksi harga ini dipicu oleh keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakhiri masa gencatan senjata dengan Iran secara resmi. Pasukan militer AS pun kembali melakukan gempuran ke fasilitas yang dinilai berkaitan dengan program militer Iran di area Selat Hormuz.
Kondisi tersebut membuat para investor global segera mengalihkan modal mereka ke instrumen yang dinilai lebih aman seperti mata uang dolar AS. Pergerakan modal ini menyeret nilai Bitcoin jatuh karena korelasinya yang semakin erat dengan pergerakan pasar saham beberapa tahun belakangan.
Situasi kian memanas setelah Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah membalas dengan membidik puluhan pangkalan militer milik Amerika di Timur Tengah. Negara Iran juga dilaporkan telah memperluas area serangan hingga ke wilayah dekat Kuwait dan Bahrain.
Ketegangan geopolitik ini menimbulkan kecemasan di kalangan pelaku pasar terkait potensi terhambatnya jalur distribusi minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak mentah biasanya berimbas pada penguatan dolar AS yang kemudian melemahkan performa aset berisiko.
Dampak penurunan harga Bitcoin ini turut berimbas negatif terhadap performa sejumlah aset kripto utama lainnya. Nilai Ethereum tercatat mengalami penurunan sekitar 1,64%, sedangkan mata uang Solana anjlok lebih dalam hingga menyentuh angka 2,41% di waktu yang sama.
Para analis juga menyoroti adanya aliran dana keluar dari instrumen stablecoin yang nilainya menembus kisaran $7,7 miliar selama konflik terjadi. Data tersebut menunjukkan bahwa investor benar-benar menarik modal mereka keluar dari ekosistem kripto menuju pasar finansial tradisional.
Meskipun terjadi penurunan harga yang signifikan, indeks Fear and Greed kripto terpantau masih berada pada angka 45 atau dalam zona netral. Indikator ini menandakan bahwa mayoritas pelaku pasar belum melakukan tindakan penjualan karena panik dan masih memantau situasi.
Secara historis, Bitcoin memang selalu merespons dengan cepat setiap kali ada gejolak militer di kawasan Timur Tengah meskipun dampaknya dinilai hanya sementara. Reaksi pasar yang sangat cepat ini membuktikan bahwa investor masih mengategorikan Bitcoin sebagai aset jangka pendek yang berisiko tinggi.