Rupiah Dibuka Melemah Pagi Ini Dolar Amerika Serikat Dekati Rp18.000

 Rupiah Dibuka Melemah Pagi Ini Dolar Amerika Serikat Dekati Rp18.000
Ilustrasi nilai tukar (sumber foto: NET)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini, Senin (6/7/2026). Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda pagi ini melemah sebesar 0,12% ke posisi Rp17.970/US$.

Pelemahan tersebut terjadi setelah mata uang rupiah sempat menguat 0,24% ke level Rp17.945/US$ pada penutupan pekan lalu, Jumat (3/7/2026). Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat sebesar 0,09% ke level 100,946 pada pukul 09.00 WIB.

Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini diprediksi masih dipengaruhi oleh kondisi eksternal serta domestik. Dari sisi eksternal, pergerakan dolar AS di pasar global yang stabil di dekat level terendah dua pekan menjadi perhatian utama pasar.

Pada pekan lalu, dolar AS mencatat penurunan mingguan paling dalam sejak bulan April. Penurunan ini dipicu oleh laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat tajam pada Juni, sehingga meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Kendati demikian, tekanan domestik terhadap rupiah tetap perlu diwaspadai oleh pelaku pasar. Salah satu sentimen negatif datang dari neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat defisit setelah bertahan surplus selama enam tahun.

BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Catatan minus ini sekaligus mengakhiri tren surplus ekspor-impor yang sempat bertahan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Ekonom BCA memproyeksikan tekanan terhadap aktivitas ekspor masih berpotensi berlanjut ke depannya. Hambatan tersebut meliputi kebijakan The Fed yang hawkish, penurunan permintaan global, program wajib biodiesel B50, hingga ketidakpastian kebijakan komoditas batu bara dan nikel.

Faktor impor juga diperkirakan tetap meningkat karena tingginya belanja pemerintah yang mengimbangi dampak depresiasi rupiah.

"Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan feedback loop yang mengarah pada pelemahan rupiah, yang kami perkirakan akan diatasi dengan tambahan kenaikan suku bunga kebijakan BI sebesar 50 bps pada tahun ini," tulis ekonom BCA Jennifer Calysta Farrell dan Victor George dalam BCA Economic and Industry Research edisi 2 Juli 2026 sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index