Rupiah Melemah ke Rp18.014 per Dolar AS di Tengah Sentimen The Fed

Rupiah Melemah ke Rp18.014 per Dolar AS di Tengah Sentimen The Fed
Ilustrasi nilai tukar rupiah (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan mata uang rupiah di pasar luar negeri tidak mengalami banyak perubahan. Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah sebesar 0,07 persen ke posisi Rp18.014/US$ pada sesi pembukaan pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Sementara itu, indeks dolar AS bergerak menguat 0,12 persen ke posisi 100,97 setelah sempat mengalami pelemahan sebesar 0,53 persen dari posisi 101,4 pada hari sebelumnya. Penguatan indeks ini memberikan tekanan pada sebagian mata uang di kawasan Asia yang bergerak di zona merah pada pagi hari pukul 07.10 WIB.

Mata uang won Korea Selatan mencatatkan pelemahan paling dalam sebesar 0,43 persen, diikuti oleh yen Jepang yang turun 0,19 persen, dan yuan offshore yang melemah tipis 0,01 persen. Di sisi lain, mata uang baht Thailand serta ringgit Malaysia berhasil tampil defensif dan mencatatkan penguatan masing-masing sebesar 0,26 persen dan 0,22 persen.

Berdasarkan data terbaru, pasar tenaga kerja di AS menunjukkan indikasi bahwa perekonomian di sana mulai kehilangan momentum. Jumlah nonfarm payrolls sepanjang bulan Juni tercatat hanya bertambah sebanyak 57.000, angka yang jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tren pada beberapa bulan sebelumnya.

Selain itu, data ketenagakerjaan dari dua bulan sebelumnya juga mengalami revisi turun secara kumulatif sebanyak 74.000 pekerjaan. Walaupun tingkat pengangguran dilaporkan menurun menjadi 4,2 persen, penurunan ini sejatinya lebih dipengaruhi oleh merosotnya tingkat partisipasi angkatan kerja ke level paling rendah dalam waktu lebih dari lima tahun terakhir.

Situasi tersebut sebenarnya membuka ruang bagi pihak The Fed untuk tetap mempertahankan sikap yang lebih lunak dalam menentukan arah kebijakan suku bunga mereka. Saat ini, para pelaku pasar tampak mulai mengurangi ekspektasi terkait adanya kenaikan suku bunga acuan lanjutan pada tahun ini.

Kendati demikian, sentimen positif tersebut dinilai belum mampu memicu penguatan mata uang di pasar negara berkembang secara menyeluruh. Sebagian besar investor memilih untuk bersikap lebih hati-hati di tengah maraknya aksi jual pada saham-saham sektor teknologi global, seperti yang melanda Korea Selatan hingga menyebabkan kinerja mata uang won melemah.

Pada sisi yang lain, faktor dari dalam negeri turut andil menjadi beban bagi penguatan beberapa mata uang di kawasan Asia. Hal ini juga menimpa mata uang rupiah yang tetap berada di bawah tekanan sekalipun peluang pengetatan moneter lanjutan oleh otoritas The Fed kini mulai mengecil.

Secara domestik, pelemahan nilai tukar rupiah masih terus dibayangi oleh sentimen fundamental ekonomi nasional yang dinilai belum kondusif. Kombinasi faktor seperti defisit pada neraca perdagangan, aktivitas sektor manufaktur yang mengalami kontraksi, hingga menyusutnya jumlah cadangan devisa menjadi alasan kuat yang membuat ruang penguatan rupiah menjadi sangat terbatas. Oleh sebab itu, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan berpotensi tertahan pada rentang nilai berikut:

Rp17.990-Rp18.050/US$ dalam jangka pendek.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index