Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Angka 17.747 per Dolar AS pada Rabu Ini

Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Angka 17.747 per Dolar AS pada Rabu Ini
Ilustrasi nilai tukar, Sumber: (NET).

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan setelah libur keagamaan. Mata uang Indonesia ini terpantau merosot 0,2 persen ke angka Rp17.738 per dolar AS pada Rabu, 17 Juni 2026, yang menghentikan tren kenaikan selama lima hari berturut-turut. Sesaat setelah pasar resmi dibuka, penurunan mata uang domestik berlanjut sebesar 0,25 persen hingga menyentuh Rp17.747 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi pascapenutupan pasar keuangan domestik selama satu hari dalam rangka peringatan Tahun Baru Islam. Penurunan nilai tukar ini justru berlangsung ketika ketegangan geopolitik dunia mulai mereda, yang ditandai oleh penurunan harga minyak mentah global hingga ke bawah 80 dolar AS per barel.

Sebelumnya, rupiah sempat menunjukkan performa memuaskan dengan menguat sebesar 1,41 persen dalam lima hari perdagangan terakhir. Tren positif tersebut terjadi berbarengan dengan penguatan sejumlah mata uang di kawasan Asia, di mana peso Filipina memimpin sebesar 1,88 persen, lalu diikuti oleh baht Thailand 1,08 persen, rupee India 0,75 persen, serta won Korea Selatan sebesar 0,57 persen.

Pergerakan pasar uang pada hari Rabu ini menempatkan posisi rupiah di zona merah bersama dengan mata uang regional lainnya. Won Korea Selatan terpantau mengalami penurunan sebesar 0,27 persen. Di sisi lain, beberapa mata uang Asia lainnya bergerak menguat dalam rentang terbatas, seperti peso Filipina yang naik 0,09 persen, yen Jepang 0,05 persen, serta dolar Singapura dan dolar Hong Kong yang masing-masing menguat sebesar 0,02 persen.

Tekanan yang terjadi pada mata uang rupiah dan won Korea Selatan disebabkan oleh sikap hati-hati para pelaku pasar menjelang pengumuman kebijakan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Otoritas moneter negara tersebut diprediksi akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada level 3,75 persen dalam pertemuan kali ini. Walakin, beberapa pejabat bank sentral mulai memberikan sinyal adanya peluang kenaikan suku bunga jika indikator inflasi di negara itu tetap berada di tren yang tinggi.

Dalam pertemuan tersebut, Federal Reserve dijadwalkan bakal merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi paling baru beserta pembaruan peta ekspektasi suku bunga atau dot plot dari para pejabatnya. Para ekonom memperkirakan bahwa pembuat kebijakan akan menaikkan proyeksi inflasi sekaligus menggeser estimasi pemotongan suku bunga ke tahun 2027, dari yang sebelumnya diperkirakan akan turun bertahap pada tahun 2026 dan 2027.

Dari pasar eksternal, investor global mencatatkan aksi jual bersih saham KOSPI di Korea Selatan dengan nilai 652 juta dolar AS pada sesi perdagangan sebelumnya. Kondisi tersebut berbalik dari hari sebelumnya yang sempat mencatatkan aksi beli bersih yang mencapai 1 miliar dolar AS.

Di pasar domestik, sebelum libur perayaan keagamaan, investor asing telah membukukan aksi jual saham senilai 6 juta dolar AS secara harian pada Senin, 15 Juni 2026. Jika ditotal dalam satu pekan, aliran dana yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai angka 749,7 juta dolar AS.

Para pelaku pasar saat ini tengah fokus memperhatikan respons kebijakan dari Bank Indonesia di tengah ketidakpastian langkah bank sentral Amerika Serikat. Langkah Bank Indonesia yang sempat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin di luar jadwal pada awal Juni telah memberikan kejutan tersendiri bagi pasar.

Ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan pengetatan moneter lanjutan dalam waktu dekat dinilai semakin terbatas. Hal ini dipengaruhi oleh membaiknya sentimen eksternal serta pemulihan nilai tukar rupiah yang sempat terjadi selama beberapa hari sebelumnya.

Pemerintah juga berupaya memberikan sentimen yang positif ke pasar dengan memberikan sinyal penyesuaian anggaran untuk program prioritas besar, seperti Makan Bergizi Gratis, demi meredakan kekhawatiran terkait tekanan fiskal.

Bank Indonesia diperkirakan akan tetap mempertahankan arah kebijakan yang cenderung ketat demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap gejolak eksternal. Kebijakan ini diambil lantaran risiko investasi di pasar keuangan domestik dinilai belum sepenuhnya mereda dalam beberapa bulan terakhir.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index