JAKARTA - Indeks harga saham gabungan atau IHSG diproyeksikan memiliki peluang untuk meneruskan tren penguatan pada sesi perdagangan hari ini. Sebelumnya, performa indeks saham domestik terpuruk di zona merah dengan penurunan 0,28% ke posisi 5.886 setelah bergerak secara fluktuatif.
Kemerosotan tajam bursa saham Wall Street, lonjakan harga minyak bumi, penurunan harga emas, hingga memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah sempat memicu aksi ambil untung investor. Kondisi tersebut terjadi tepat setelah pasar modal domestik mencatatkan lonjakan performa yang cukup signifikan selama dua hari berturut-turut.
Namun, tekanan terhadap pergerakan indeks mulai mereda setelah muncul laporan mengenai selesainya operasi serangan Amerika Serikat ke Iran serta penurunan harga komoditas minyak mentah global. Faktor pendorong dari dalam negeri juga ikut memberikan dampak positif menyusul rencana pemerintah yang akan menerapkan langkah efisiensi anggaran untuk mendanai program MBG.
Dalam pergerakannya, kelompok saham di bidang barang baku menjadi sektor yang mengalami kemerosotan paling dalam hingga mencapai 4,27%. Di sisi lain, sektor industri keuangan justru tampil prima dengan membukukan lonjakan performa paling tinggi sebesar 1,36%.
Sementara itu pada perdagangan di pasar spot, nilai tukar mata uang rupiah ditutup terdepresiasi sebesar 0,25% ke angka Rp17.989 per dolar AS. Secara analisis teknikal, indikator MACD menunjukkan adanya potensi fase Golden Cross dengan posisi penutupan indeks yang mampu bertahan di atas area MA5 serta MA10.
“Sehingga diperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan menguji level 5.900-5.950,”
Proyeksi senada juga memperlihatkan bahwa pergerakan indeks saham tanah air masih memiliki ruang untuk bergerak positif menuju kisaran target di level 6.065 hingga 6.256. Terdapat beberapa instrumen saham yang dapat dicermati untuk aktivitas perdagangan harian pada akhir pekan ini, antara lain:
MEDC
PGAS
SMDR
VKTR