JAKARTA - Aktivitas perdagangan saham di pasar modal dalam negeri sepanjang periode 25 hingga 29 Mei 2026 bergerak bervariasi. Walaupun laju Indeks Harga Saham Gabungan mengalami penurunan, namun rata-rata nilai transaksi yang dibukukan setiap harinya justru melonjak sangat pesat, di kala pemodal internasional masih terus melakukan aksi lepas saham.
Data pergerakan pasar menunjukkan bahwa rerata nilai transaksi harian dalam satu pekan kemarin menguat sebesar 30,37 persen menjadi Rp 28,38 triliun dari capaian pekan sebelumnya yang berada di angka Rp 21,77 triliun.
Perkembangan positif ini turut mengerek total valuasi kapitalisasi pasar di bursa sebesar 0,88 persen, dari posisi Rp 10.635 triliun kini menyentuh Rp 10.729 triliun.
Kendati demikian, indeks acuan dalam kurun waktu tersebut mengalami depresiasi sebesar 0,56 persen.
Hal ini membuat posisi penutupan indeks bergeser ke level 6.127,381 setelah sebelumnya bertengger di level 6.162,045 pada penutupan pekan lalu.
Laju aktivitas di lantai bursa juga terpantau mengalami perlambatan secara keseluruhan. Rerata frekuensi perdagangan saham harian menyusut 10,87 persen menjadi 2,11 juta kali dari yang sebelumnya mencapai 2,37 juta kali transaksi.
Selaras dengan itu, rerata volume saham yang diperdagangkan setiap hari melorot 15,6 persen menjadi 30,95 miliar lembar saham dari perolehan pekan lalu sebesar 36,67 billion lembar saham.
Dari sisi pergerakan modal internasional, tekanan lepas portofolio masih terus bergulir. Pada penutupan perdagangan, pemodal internasional membukukan pelepasan bersih dengan nilai mencapai Rp 8,519 triliun.
Jika dikalkulasikan secara kumulatif dari awal tahun 2026, akumulasi aksi lepas bersih oleh pemodal internasional telah menembus angka Rp 53,971 triliun.
Guna menyikapi dinamika pasar yang terus berkembang, otoritas bursa terus berupaya memperkokoh ekosistem pasar modal domestik lewat penguatan tata kelola serta aspek transparansi bagi setiap perusahaan tercatat.
Langkah ini diwujudkan melalui pelaksanaan diskusi kepemimpinan strategis yang diselenggarakan bersama otoritas pengawas keuangan dan asosiasi profesi akuntan pada Selasa (26/5).
Pertemuan ilmiah yang mengusung tema “Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) dalam Membangun Kepercayaan Pasar Modal Indonesia” ini ditujukan demi memperdalam pemahaman seluruh emiten terkait penerapan pelaporan keberlanjutan yang sejalan dengan acuan internasional IFRS S1 dan IFRS S2.
Di dalam rangkaian pemaparan tersebut, ditegaskan pula mengenai krusialnya fungsi jajaran pimpinan dalam memadukan aspek keberlanjutan ke dalam rencana kerja strategis serta sistem mitigasi risiko operasional perseroan.
Demi menyokong penuh berjalannya implementasi acuan tersebut, penyedia sarana bursa pun secara konsisten mematangkan sarana pelaporan berbasis keberlanjutan lewat sistem SPE-IDXnet serta portal IDX Sustainability.
Upaya ini dioptimalkan guna menyajikan pusat data lingkungan, sosial, dan tata kelola yang jauh lebih terbuka serta kredibel bagi pemenuhan kebutuhan para pemodal.