Langkah BI Kerek Suku Bunga Acuan guna Tarik Investor Asing Kembali

Langkah BI Kerek Suku Bunga Acuan guna Tarik Investor Asing Kembali
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti

JAKARTA - Kebijakan penyesuaian suku bunga acuan atau BI Rate kini resmi ditetapkan berada pada level 5,25%. Keputusan strategis ini diambil berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 19-20 Mei lalu.

Langkah menaikkan BI Rate tersebut diambil sebagai respons atas kondisi perekonomian global, di mana banyak bank sentral dunia, khususnya The Fed, masih mempertahankan tingkat suku bunga yang tinggi dalam jangka waktu lama. Fenomena ini memicu lonjakan yield obligasi di Amerika Serikat serta penguatan indeks dolar terhadap mayoritas mata uang global.

Kondisi global saat ini berada dalam situasi higher for longer. Imbasnya, yield obligasi di Amerika Serikat merangkak naik, tingkat inflasi di sana melonjak, dan nilai tukar dolar ikut menguat terhadap hampir seluruh mata uang dunia.

Menghadapi situasi tersebut, prioritas utama saat ini adalah menjaga stabilitas demi membentengi nilai tukar rupiah. Berbagai langkah taktis telah diterapkan melalui intervensi langsung di pasar spot, Non-Deliverable Forward, pembelian surat berharga negara, hingga keputusan menaikkan BI Rate.

"Kami mau semuanya itu clear, bahwa memang ada demand dolar tapi untuk kebutuhan. Jadi, untuk apakah impor, apakah untuk bayar utang gitu kan, tapi bukan untuk di-keep saja. Nah, ini kan kami tidak mau,"

Kebijakan mengerek tingkat suku bunga ini diharapkan mampu memperkokoh posisi nilai tukar rupiah yang saat ini dinilai masih belum sepenuhnya solid. Di samping itu, keputusan ini ditujukan untuk memicu kembalinya aliran modal asing masuk ke dalam pasar keuangan domestik.

"Kami naikkan suku bunga, karena kami merasa masih kurang gitu. Jadi, ini harus kami dorong dengan naikkan suku bunga, karena kami harus membuat instrumen rupiah kami itu menjadi menarik lagi, sehingga itu bisa mendorong inflow kembali masuk ke, paling tidak ke pasar keuangan kami dulu. Jadi, pertimbangannya banyak gitu,"

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index