Intip 10 Saham Penggerak Pasar Saat IHSG Mengalami Koreksi Tajam

Intip 10 Saham Penggerak Pasar Saat IHSG Mengalami Koreksi Tajam
ilustrasi ihsg (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Alur pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan terpantau mengalami kemerosotan yang cukup signifikan sepanjang pekan perdagangan 18 sampai 22 Mei 2026 dengan mencatatkan penurunan mencapai 8,35 persen.

Kendati demikian, performa dari beberapa instrumen saham di bidang konsumsi serta jasa keuangan justru mampu bergerak positif dan menjadi peredam runtuhnya indeks agar tidak merosot lebih dalam.

Melalui data pergerakan lantai bursa yang dipublikasikan, tampak sejumlah emiten sukses menempatkan diri ke dalam kelompok pendorong utama pasar.

Kelompok saham tersebut berhasil mencetak pertumbuhan performa yang menjanjikan saat kondisi pasar modal secara umum sedang tertekan di zona merah.

PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) tampil memikat sebagai motor utama dalam menopang laju indeks komposit di kala tren penurunan melanda.

Dalam jangka waktu satu pekan tersebut, nilai saham SMMA dilaporkan melonjak hingga 7,07 persen.

Kenaikan pada saham SMMA ini memberikan dampak kontribusi yang sangat krusial bagi pergerakan IHSG, yakni menyumbangkan angka sebesar 8,32 poin.

Pencapaian positif ini menempatkan emiten dari Grup Sinar Mas tersebut di urutan teratas dalam jajaran penyokong bursa saham.

Berada di peringkat kedua, terdapat emiten pengelola jaringan rumah sakit, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ).

Komoditas saham SRAJ tercatat mengalami penguatan sebesar 7,69 persen dalam lima hari masa perdagangan.

Sumbangsih dari SRAJ terhadap dinamika indeks menyentuh angka 4,61 poin, di mana pergerakan positif ini menjadi angin segar bagi para investor di tengah fluktuasi pasar yang dinamis.

Sektor perunggasan juga ikut memberikan performa apik melalui PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang menduduki urutan ketiga.

Emiten ini sukses mengamankan kenaikan nilai harga sebesar 4,57 persen jika dikalkulasikan secara mingguan.

Secara akumulatif, penguatan dari CPIN turut menyumbang angka sebesar 2,38 poin untuk pergerakan laju IHSG.

Di sisi lain, emiten bidang konsumsi PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) ikut memberikan sokongan melalui pertumbuhan harga sahamnya sebesar 5,98 persen.

Peningkatan saham dari produsen makanan ringan ini memberikan kontribusi sekitar 0,77 poin terhadap pergerakan indeks komposit.

Sementara itu, emiten sektor ritel PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) juga masuk dalam barisan penyokong dengan andil total senilai 0,55 poin.

Saham dari pengelola jaringan gerai Alfamart, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), membukukan penguatan tipis sebesar 0,71 persen dalam satu pekan.

Kinerja pergerakan ini tetap mampu menyuntikkan dorongan tambahan untuk laju IHSG dengan besaran 0,38 poin.

Emiten perunggasan lainnya, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), menyetorkan andil sebesar 0,32 poin setelah nilainya terangkat naik 1,18 persen.

Kemudian, saham milik PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (UNIC) melesat sangat tinggi hingga mencapai 11,03 persen serta menyumbang angka 0,31 poin.

Peringkat sepuluh besar dari barisan penggerak indeks ditutup oleh performa saham perbankan PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) bersama PT Bank BTPN Tbk. (BTPN).

Masing-masing emiten tersebut mencatatkan penguatan sebesar 2,95 persen dan 4,85 persen dalam periode satu pekan perdagangan.

Secara berurutan, BDMN menyetorkan kontribusi dengan nilai sebesar 0,21 poin, sedangkan BTPN menyumbangkan angka sebesar 0,20 poin.

Walau nominal angka-angka ini terlihat tidak terlalu besar, peranannya terhitung sangat vital demi menjaga stabilitas keseimbangan indeks komposit.

Berikut merupakan rincian rangkuman data dari 10 saham penggerak IHSG untuk periode 18-22 Mei 2026:

Saham SMMA mencatatkan kenaikan harga 7,07 persen, kapitalisasi pasar 56,20 triliun, dengan kontribusi IHSG 8,32 poin.

Saham SRAJ mencatatkan kenaikan harga 7,69 persen, kapitalisasi pasar 28,79 triliun, dengan kontribusi IHSG 4,61 poin.

Saham CPIN mencatatkan kenaikan harga 4,57 persen, kapitalisasi pasar 24,35 triliun, dengan kontribusi IHSG 2,38 poin.

Saham MYOR mencatatkan kenaikan harga 5,98 persen, kapitalisasi pasar 6,05 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,77 poin.

Saham MAPI mencatatkan kenaikan harga 2,03 persen, kapitalisasi pasar 12,24 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,55 poin.

Saham AMRT mencatatkan kenaikan harga 0,71 persen, kapitalisasi pasar 24,35 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,38 poin.

Saham JPFA mencatatkan kenaikan harga 1,18 persen, kapitalisasi pasar 12,37 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,32 poin.

Saham UNIC mencatatkan kenaikan harga 11,03 persen, kapitalisasi pasar 1,41 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,31 poin.

Saham BDMN mencatatkan kenaikan harga 2,95 persen, kapitalisasi pasar 3,30 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,21 poin.

Saham BTPN mencatatkan kenaikan harga 4,85 persen, kapitalisasi pasar 1,98 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,20 poin.

Penjabaran data tersebut memperlihatkan bahwa walau kondisi pasar secara menyeluruh sedang lesu, beberapa sektor tertentu tetap memiliki daya pikat kuat bagi investor.

Nilai kapasitas pasar yang jumbo dari emiten layaknya SMMA serta CPIN menjadi instrumen penentu yang krusial bagi pergerakan poin indeks komposit.

Indeks Harga Saham Gabungan terpaksa jatuh cukup dalam menuju ke area level 6.162,04 pada momen penutupan pekan perdagangan ini.

Koreksi tajam tersebut dipicu oleh tingginya volume aktivitas transaksi yang dibarengi pula oleh aksi pelepasan saham dari para pemodal asing.

Dampak signifikan ini membuat nilai kapitalisasi pasar ikut menyusut sekitar 10,07 persen, dari semula Rp11.825 triliun merosot ke angka Rp10.635 triliun.

Kondisi tersebut menandakan bahwa ada kekayaan di pasar modal sebesar Rp1.190 triliun yang sirna hanya dalam jangka waktu lima hari perdagangan saja.

Situasi fenomena ini merefleksikan dengan jelas seberapa besarnya tekanan aksi jual yang sedang melanda lantai bursa saat ini.

Namun di sudut lain, perolehan rata-rata dari nilai transaksi harian justru memperlihatkan adanya pergerakan tren yang menanjak.

Nominal transaksi harian menanjak sebesar 15,68 persen menjadi Rp21,77 triliun bila disandingkan dengan pekan sebelumnya yang berada di level Rp18,82 triliun.

Selain itu, catatan rata-rata untuk volume transaksi harian juga kedapatan mengalami pertumbuhan tipis di angka 2,53 persen.

Volume perdagangan instrumen saham meningkat ke posisi 36,67 miliar lembar saham dari raihan sebelumnya yang berada di angka 35,76 miliar lembar.

Walau volume beserta nilai transaksi merangkak naik, tingkat frekuensi perdagangan harian justru melorot sekitar 6,5 persen ke posisi 2,37 juta kali.

Hal tersebut memberikan indikasi bahwa aktivitas transaksi dengan nominal jumbo jauh lebih mendominasi pergerakan pasar ketimbang transaksi ritel kecil.

Tekanan pun terasa semakin berat lantaran investor asing terpantau masih gencar melangsungkan aksi jual bersih atau net sell di pasar domestik.

Pada sesi perdagangan terakhir di hari Jumat (22/5/2026), aliran dana modal asing yang bergerak keluar tercatat menembus nominal Rp309,52 miIiar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index