IHSG Melemah 8,35 Persen Saham SMMA dan MYOR Masuk Jajaran Top Leaders

IHSG Melemah 8,35 Persen Saham SMMA dan MYOR Masuk Jajaran Top Leaders
ilustrasi ihsg (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan terpantau mengalami koreksi yang sangat tajam selama periode perdagangan 18 sampai 22 Mei 2026 dengan mencatatkan pelemahan hingga 8,35 persen.

Kendati demikian, gerak sejumlah saham dari sektor konsumsi hingga jasa keuangan justru berhasil tampil prima sebagai penahan koreksi indeks yang lebih dalam.

Melalui rilis data pergerakan pasar saham, terdapat rentetan emiten yang memposisikan diri dalam jajaran penggerak utama pasar atau top leaders.

Barisan saham ini sukses membukukan kinerja pertumbuhan yang positif di kala kondisi pasar secara umum sedang terlempar ke zona merah.

PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) tampil memikat sebagai bintang utama dalam menyokong pergerakan indeks komposit saat tren pelemahan sedang berlangsung.

Dalam kurun waktu satu pekan tersebut, nilai saham SMMA terpantau melesat tinggi hingga 7,07 persen.

Lonjakan pada saham SMMA ini memberikan dampak sumbangsih yang amat krusial bagi IHSG, yaitu dengan kontribusi sebesar 8,32 poin.

Pencapaian memukau ini menempatkan emiten dari Grup Sinar Mas tersebut berada pada urutan teratas dalam daftar pendorong bursa.

Mengekor pada posisi kedua, terdapat emiten lini pengelola rumah sakit milik konglomerat Dato Sri Tahir, yakni PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ).

Komoditas saham SRAJ tercatat mengalami penguatan sebesar 7,69 persen dalam kurun waktu lima hari perdagangan.

Andil dari SRAJ terhadap pergerakan indeks berada pada angka 4,61 poin, yang mana pergerakan positif ini menjadi angin segar bagi para pemodal di tengah fluktuasi pasar modal yang dinamis.

Lini sektor perunggasan pun tidak mau ketinggalan melalui performa memikat PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang mengamankan urutan ketiga.

Emiten ini berhasil mencatatkan apresiasi nilai harga sebesar 4,57 persen jika dihitung secara mingguan.

Secara akumulatif, penguatan dari CPIN turut menyumbang angka sebesar 2,38 poin untuk pergerakan laju IHSG.

Di samping itu, emiten sektor konsumsi PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) ikut memberikan sokongan lewat kenaikan harga produk sahamnya sebesar 5,98 persen.

Pertumbuhan saham dari produsen makanan ringan ini memberikan kontribusi sekitar 0,77 poin terhadap pergerakan indeks komposit.

Sementara itu, emiten bidang ritel PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) juga masuk ke dalam barisan penyokong dengan total andil sebesar 0,55 poin.

Saham dari pengelola jaringan gerai Alfamart, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), membukukan penguatan tipis di angka 0,71 persen dalam satu pekan.

Kinerja pergerakan ini tetap mampu menyuntikkan dorongan tambahan untuk laju IHSG dengan besaran 0,38 poin.

Emiten perunggasan lainnya, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), menyetorkan andil sebesar 0,32 poin setelah nilainya terangkat naik 1,18 persen.

Kemudian, saham milik PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (UNIC) melesat sangat tinggi hingga mencapai 11,03 persen serta menyumbang angka 0,31 poin.

Peringkat sepuluh besar dari barisan penggerak indeks ditutup oleh performa saham perbankan PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) bersama PT Bank BTPN Tbk. (BTPN).

Masing-masing emiten tersebut mencatatkan penguatan sebesar 2,95 persen dan 4,85 persen dalam periode satu pekan perdagangan.

Secara berurutan, BDMN menyetorkan kontribusi dengan nilai sebesar 0,21 poin, sedangkan BTPN menyumbangkan angka sebesar 0,20 poin.

Walau nominal angka-angka ini terlihat tidak terlalu besar, peranannya terhitung sangat vital demi menjaga stabilitas keseimbangan indeks komposit.

Berikut merupakan rincian rangkuman data dari 10 saham penggerak IHSG untuk periode 18-22 Mei 2026:

Saham SMMA mencatatkan kenaikan harga 7,07 persen, kapitalisasi pasar 56,20 triliun, dengan kontribusi IHSG 8,32 poin.

Saham SRAJ mencatatkan kenaikan harga 7,69 persen, kapitalisasi pasar 28,79 triliun, dengan kontribusi IHSG 4,61 poin.

Saham CPIN mencatatkan kenaikan harga 4,57 persen, kapitalisasi pasar 24,35 triliun, dengan kontribusi IHSG 2,38 poin.

Saham MYOR mencatatkan kenaikan harga 5,98 persen, kapitalisasi pasar 6,05 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,77 poin.

Saham MAPI mencatatkan kenaikan harga 2,03 persen, kapitalisasi pasar 12,24 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,55 poin.

Saham AMRT mencatatkan kenaikan harga 0,71 persen, kapitalisasi pasar 24,35 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,38 poin.

Saham JPFA mencatatkan kenaikan harga 1,18 persen, kapitalisasi pasar 12,37 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,32 poin.

Saham UNIC mencatatkan kenaikan harga 11,03 persen, kapitalisasi pasar 1,41 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,31 poin.

Saham BDMN mencatatkan kenaikan harga 2,95 persen, kapitalisasi pasar 3,30 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,21 poin.

Saham BTPN mencatatkan kenaikan harga 4,85 persen, kapitalisasi pasar 1,98 triliun, dengan kontribusi IHSG 0,20 poin.

Penjabaran data tersebut memperlihatkan bahwa walau kondisi pasar secara menyeluruh sedang lesu, beberapa sektor tertentu tetap memiliki daya pikat kuat bagi investor.

Nilai kapasitas pasar yang jumbo dari emiten layaknya SMMA serta CPIN menjadi instrumen penentu yang krusial bagi pergerakan poin indeks komposit.

Indeks Harga Saham Gabungan terpaksa jatuh cukup dalam menuju ke area level 6.162,04 pada momen penutupan pekan perdagangan ini.

Koreksi tajam tersebut dipicu oleh tingginya volume aktivitas transaksi yang dibarengi pula oleh aksi pelepasan saham dari para pemodal asing.

Dampak signifikan ini membuat nilai kapitalisasi pasar ikut menyusut sekitar 10,07 persen, dari semula Rp11.825 triliun merosot ke angka Rp10.635 triliun.

Kondisi tersebut menandakan bahwa ada kekayaan di pasar modal sebesar Rp1.190 triliun yang sirna hanya dalam jangka waktu lima hari perdagangan saja.

Situasi fenomena ini merefleksikan dengan jelas seberapa besarnya tekanan aksi jual yang sedang melanda lantai bursa saat ini.

Namun di sudut lain, perolehan rata-rata dari nilai transaksi harian justru memperlihatkan adanya pergerakan tren yang menanjak.

Nominal transaksi harian menanjak sebesar 15,68 persen menjadi Rp21,77 triliun bila disandingkan dengan pekan sebelumnya yang berada di level Rp18,82 triliun.

Selain itu, catatan rata-rata untuk volume transaksi harian juga kedapatan mengalami pertumbuhan tipis di angka 2,53 persen.

Volume perdagangan instrumen saham meningkat ke posisi 36,67 miliar lembar saham dari raihan sebelumnya yang berada di angka 35,76 miliar lembar.

Walau volume beserta nilai transaksi merangkak naik, tingkat frekuensi perdagangan harian justru melorot sekitar 6,5 persen ke posisi 2,37 juta kali.

Hal tersebut memberikan indikasi bahwa aktivitas transaksi dengan nominal jumbo jauh lebih mendominasi pergerakan pasar ketimbang transaksi ritel kecil.

Tekanan pun terasa semakin berat lantaran investor asing terpantau masih gencar melangsungkan aksi jual bersih atau net sell di pasar domestik.

Pada sesi perdagangan terakhir di hari Jumat (22/5/2026), aliran dana modal asing yang bergerak keluar tercatat menembus nominal Rp309,52 miIiar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index