JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal bervariasi dengan kecenderungan melemah pada sesi perdagangan Kamis, 21 Mei 2026.
Walaupun bank sentral sudah mengambil langkah agresif dengan mengatrol suku bunga acuan dan pidato ekonomi mendapat sambutan baik, imbas tekanan eksternal global dianggap masih menjadi beban.
Fluktuasi mata uang Rupiah pada hari ini diperkirakan bakal ditutup melemah pada kisaran angka Rp17.650 sampai Rp17.700 per dolar AS.
Estimasi itu mengemuka setelah mata uang Garuda sempat menguat 52 poin menuju level Rp17.653 per dolar AS, dari posisi penutupan di hari sebelumnya pada angka Rp17.703.
Pasar finansial internasional hingga saat ini masih memandang pergolakan di Timur Tengah sebagai pemicu utama ketidakpastian bagi instrumen keuangan.
Pertentangan dalam pernyataan politik global membuat pelaku pasar terus mengalkulasi risiko munculnya inflasi global baru yang disebabkan oleh terhambatnya pasokan energi akibat pertempuran.
Situasi ini memicu harga minyak mentah dunia tetap melonjak dan berpotensi memperberat laju inflasi global untuk beberapa waktu mendatang.
Para pelaku pasar sekarang mulai memprediksi opsi bank sentral utama dunia untuk tetap menahan kebijakan suku bunga tinggi mereka dalam periode yang lebih panjang.
Apabila dugaan itu terus berlanjut, mata uang dolar AS berpeluang tetap perkasa dan menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk mata uang Garuda.
Datang dari faktor domestik, stimulus paling kuat bersumber dari langkah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin hingga menyentuh 5,25 persen.
Peningkatan ini secara resmi menyudahi masa delapan bulan berturut-turut saat bank sentral mempertahankan suku bunga pada posisi yang sama.
Bukan cuma BI Rate, suku bunga Deposit Facility ikut merangkak naik ke posisi 4,25 persen, sedangkan untuk Lending Facility saat ini bertengger di level 6,25 persen.
Kebijakan tersebut diterapkan demi memproteksi stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus meredam guncangan global dari konflik yang berkecamuk di Timur Tengah.
Langkah ini juga diposisikan untuk mengawal target inflasi jangka waktu 2026-2027 supaya tetap konsisten pada target sasaran sebesar 2,5 ±1 persen.
Kondisi pasar pun sempat menyambut baik pidato kepemimpinan nasional di DPR RI yang menguraikan proyeksi pertumbuhan ekonomi di angka 5,8-6,5 persen.
Ditetapkan pula estimasi kurs Rupiah untuk periode tahun depan yang dipatok pada rentang antara angka Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS.
Lewat pidato tersebut, ketegasan untuk mengawal kedisiplinan anggaran negara melalui langkah meminimalkan defisit disampaikan secara transparan di depan para anggota dewan.
"Kami akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit," kata Prabowo.
Kendati demikian, sasaran kurs itu juga mengindikasikan bahwa otoritas pemerintah belum sepenuhnya memproyeksikan adanya penguatan tajam Rupiah dalam waktu dekat.
Kini tren pergerakan kurs domestik tengah berada di antara persimpangan pengetatan moneter dalam negeri dan risiko ketidakpastian pasar global yang membayangi.