JAKARTA - Pemerintah telah menetapkan hari Jumat 15 Mei 2026 sebagai hari cuti bersama. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai operasional perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari tersebut.
Berdasarkan Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri, Jumat 15 Mei 2026 merupakan cuti bersama Hari Kenaikan Yesus Kristus. Aturan ini berlaku bagi instansi pemerintah, sektor pendidikan, serta industri finansial.
Pihak BEI mengumumkan penghentian aktivitas perdagangan dalam rangka memperingati Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus pada Kamis, 14 Mei 2026. Karena Jumat juga ditetapkan sebagai cuti bersama, bursa tutup dua hari berturut-turut.
Aktivitas perdagangan saham akan dibuka kembali pada Senin, 18 Mei 2026. Jadwal operasional dimulai pada sesi I pukul 09.00–12.00 WIB dan dilanjutkan sesi II pada pukul 13.30–15.49 WIB.
Menjelang libur panjang ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami pelemahan tajam pada Rabu (13/5/2026). IHSG merosot 135 poin atau turun 1,98 persen menuju level 6.723.
Angka tersebut mencatatkan level terendah baru dalam setahun terakhir. Tekanan utama muncul akibat anjloknya saham-saham berkapitalisasi besar setelah dikeluarkan dari daftar MSCI Global Standard Indexes.
Beberapa saham yang menekan indeks antara lain TPIA, DSSA, AMMN, BREN, CUAN, dan AMRT. Koreksi juga dialami oleh saham big cap lain seperti MORA, MLPT, hingga AALI.
Secara sektoral, penurunan paling dalam terjadi pada sektor material dasar yang turun lebih dari 4,43 persen. Sementara itu, sektor infrastruktur terpantau mengalami penurunan sebesar 2,72 persen.
Sektor energi, konsumer primer, teknologi, hingga keuangan juga bergerak di zona merah. Namun, sektor transportasi masih menguat 4,89 persen dan sektor industri naik 1,26 persen.
Pelemahan ini menunjukkan pengaruh besar perubahan indeks MSCI terhadap pasar domestik. Keluarnya saham tertentu memicu aksi jual investor dan menekan saham big cap di bursa.
Investor asing mencatatkan aksi jual bersih mencapai Rp 1,53 triliun pada Rabu (13/5). Saham yang paling banyak dilepas adalah BBRI, BMRI, AMMN, BBCA, serta BUMI.
Prabowo Subianto menyoroti perizinan usaha yang memakan waktu lama. "Pemerintah sedang mengkaji pembentukan Satgas Deregulasi agar birokrasi kami lebih efisien," ungkapnya.
"Kami ingin memastikan bahwa hambatan investasi yang sudah bertahun-tahun ini bisa segera diselesaikan demi pertumbuhan ekonomi," tegas Prabowo.