RELIGI

Sukses Mujahadah Kubro 1 Abad NU, Kota Malang Dinilai Siap Kembangkan Wisata Religi Nasional

Sukses Mujahadah Kubro 1 Abad NU, Kota Malang Dinilai Siap Kembangkan Wisata Religi Nasional
Sukses Mujahadah Kubro 1 Abad NU, Kota Malang Dinilai Siap Kembangkan Wisata Religi Nasional

JAKARTA - Kota Malang, Jawa Timur, belum lama ini menjadi tuan rumah kegiatan bersejarah berskala nasional yang berhasil menghadirkan ribuan jamaah dari berbagai penjuru Indonesia. Acara Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama yang digelar pada tanggal 7–8 Februari 2026 di Stadion Gajayana menjadi sorotan banyak pihak karena antusiasme luar biasa yang ditunjukkan jamaah peserta, sekaligus menjadi bukti potensi besar yang dimiliki Kota Malang dalam hal kegiatan keagamaan berskala besar.

Amithya Ratnanggani Sirraduhita, Ketua DPRD Kota Malang sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang, menilai bahwa keberhasilan penyelenggaraan Mujahadah Kubro tersebut merupakan momentum strategis untuk menata ulang fokus pembangunan sektor pariwisata di kota ini. “Potensi wisata religi di Kota Malang itu sebenarnya ada. Harapannya, ini bisa menjadi salah satu opsi pengembangan pariwisata, tidak hanya pariwisata umum, tetapi juga bidang religi,” kata Amithya.

Menurutnya, kesuksesan acara yang berhasil menarik jamaah lintas daerah ke Malang bukan hanya soal jumlah peserta, tetapi juga indikator kesiapan kota dalam menjadi tuan rumah kegiatan keagamaan besar. Hal ini membuka peluang baru agar Kota Malang semakin siap untuk memberikan pelayanan terbaik bagi wisatawan religi di masa mendatang.

Kenapa Kota Malang Layak Jadi Destinasi Wisata Religi?

Kota Malang sejak lama dikenal sebagai kota pendidikan dan wisata budaya, tetapi potensi wisata religi selama ini belum sepenuhnya tergarap secara maksimal. Penyampaian Amithya menunjukkan bahwa event besar seperti Mujahadah Kubro bisa menjadi awal dari pengembangan wisata religius yang lebih sistematis dan strategis.

Beberapa faktor memperkuat potensi ini. Misalnya, kenyamanan kota, aksesibilitas ke tempat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan, serta daya tarik lokasi-lokasi religius yang sudah ada. Selain itu, kehadiran jamaah dalam jumlah besar di Malang bisa mempercepat tumbuhnya fasilitas pendukung, seperti hotel, restoran, dan layanan transportasi yang siap melayani kepentingan wisatawan religi.

Lebih jauh, keberagaman tempat ibadah dan situs religius yang tersebar di Malang juga menjadi nilai tambah. Misalnya, Masjid Agung Jami’ yang menjadi salah satu masjid tertua di kota ini dengan nilai sejarahnya yang kuat, serta destinasi lain seperti Masjid Salman Al-Farisi atau makam tokoh penyebar agama yang kini banyak dikunjungi wisatawan.

Pelayanan dan Infrastruktur: Tantangan yang Harus Disempurnakan

Meski Amithya mengakui potensi wisata religi yang kuat, dia juga menegaskan bahwa masih ada sejumlah aspek yang perlu disempurnakan. “Sesukses apa pun kegiatan, pasti ada hal-hal yang bisa kita perbaiki. Ini menjadi pembelajaran agar Kota Malang semakin siap melayani wisatawan religi ke depannya,” tambahnya.

Hal yang dimaksud mencakup kesiapan infrastruktur, koordinasi antarlembaga, hingga pelayanan di titik-titik strategis wisata religius. Menurutnya, keberhasilan sebuah destinasi tidak hanya diukur dari besarnya acara atau jumlah pengunjung, tetapi juga bagaimana kota mampu memberikan pengalaman yang nyaman, aman, dan berkesan bagi para tamu atau jamaah yang datang.

Pengalaman penyelenggaraan Mujahadah Kubro, yang dikemas dengan baik bahkan dalam kondisi cuaca yang tidak selalu bersahabat, disebutnya sebagai pelajaran penting. “Ini menjadi pembelajaran berharga agar ke depannya pelayanan bisa lebih baik lagi,” ujar Amithya.

Peran Pemerintah dan DPRD dalam Menguatkan Ekosistem Wisata Religi

Pernyataan Amithya bukan sekadar retorika. Dia menekankan bahwa lembaga legislatif bersama pemerintah daerah harus bersinergi dalam merumuskan arah kebijakan yang konkret terkait pengembangan wisata religi. Keberhasilan acara ini menjadi momentum bagi DPRD untuk mendorong pembentukan program, regulasi, dan dukungan anggaran yang tepat sasaran.

Kolaborasi antara DPRD, pemerintah kota, serta pelaku usaha pariwisata merupakan kunci agar tujuan tersebut bisa terealisasi. Malang, menurutnya, bukan hanya punya modal fisik, tetapi juga komunitas aktif dan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan potensi religius ini.

Langkah Nyata Menuju Wisata Religi yang Lebih Kokoh

Perkembangan potensi wisata religi di Malang yang disorot oleh Ketua DPRD Kota Malang memberi gambaran bahwa fokus pariwisata kota ini tidak bisa lagi hanya berkutat di sektor alam atau budaya semata. Momentum dari acara tajam seperti Mujahadah Kubro 1 Abad NU bisa menjadi titik tolak untuk menyusun strategi pariwisata baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dengan perbaikan layanan, koordinasi antarlembaga, serta dukungan program yang kuat dari DPRD dan pemerintah kota, peluang Malang sebagai destinasi wisata religi nasional bukan lagi sekadar impian. Menurut Amithya, jika dirancang dengan baik, segmen wisata ini bisa jadi kekuatan baru dalam perekonomian dan citra kota Malang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index