Di tengah sorak pendukung tuan rumah, Mohammad Zaki “Ubed” Ubaidillah menorehkan babak baru dalam kariernya saat tampil sebagai pemenang tunggal putra Thailand Masters 2026. Setelah laga penuh drama yang memaksa pertandingan ke rubber game, Ubed berhasil mengalahkan wakil Thailand Panitchaphon Teeraratsakul dengan skor 21-19, 20-22, dan 21-19 dalam final di Stadion Nimibutr, Minggu (1/2/2026). Kemenangan ini tidak hanya memperlihatkan mental kuatnya, tetapi juga memantapkan namanya sebagai salah satu pebulutangkis muda yang patut diperhitungkan.
Dominasi Muda di Tengah Atmosfer Lawan
Pertarungan final berlangsung ketat sejak smash pertama. Ubed sempat tertinggal di beberapa poin awal, namun berhasil menggeser momentum dan memenangkan gim pertama dengan skor tipis 21-19. Panitchaphon tidak tinggal diam, bangkit di gim kedua dan mengunci kemenangan 22-20, memaksa laga memasuki rubber game.
Rubber game berjalan bak adu strategi dan mentalitas. Panitchaphon sempat unggul 11-8 saat interval, tetapi Ubed tidak goyah. Perlahan ia menyamakan skor, memainkan reli panjang, dan akhirnya memastikan kemenangan yang mengakhiri duel dengan skor akhir 21-19. Kemenangan ini menjadi bukti ketangguhan Ubed meskipun bermain di hadapan publik lawan yang riuh.
Kemenangan Pertama Lawan Panitchaphon
Bagi Ubed, gelar juara ini punya makna khusus. Sebelumnya, ia belum pernah menang atas Panitchaphon di dua pertemuan sebelumnya — yakni di Toyota International Challenge 2024 dan Kumamoto Masters Jepang 2025. Menang di Nimibutr Stadium menjadi titik kebangkitan signifikan bagi pebulutangkis berusia muda ini.
Usai pertandingan, Ubed mengungkapkan perasaannya yang “campur aduk” dan tak menyangka bisa keluar sebagai juara. Pernyataan ini menunjukkan betapa besar tekanan yang dialami selama pertandingan, terutama ketika berhadapan langsung dengan wakil tuan rumah di arena yang bersuasana intimidatif.
Perjalanan Menyentuh Final
Sebelum mencapai puncak turnamen, Ubed melalui rangkaian pertandingan yang tidak mudah. Di semifinal, ia harus menghadapi rekan senegaranya sendiri — Alwi Farhan — dalam derbi Merah Putih yang berlangsung ketat. Ubed berhasil menang dua gim langsung 21-18 dan 21-14 untuk memastikan tempatnya di final.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa Ubed bukan hanya beruntung sampai ke final — ia benar-benar memenangkan setiap langkahnya melalui strategi matang dan ketenangan pada momen krusial. Di semifinal, meski sempat tertinggal di gim pertama, ia mampu bangkit dan memanfaatkan setiap peluang untuk membalikkan keadaan.
Sejarah untuk Indonesia di Thailand Masters
Prestasi Ubed mengambil bagian dalam pencapaian besar Indonesia di Thailand Masters 2026. Di turnamen yang masuk kalender BWF World Tour Super 300 ini, Indonesia keluar sebagai negara yang paling sukses dengan mengumpulkan empat gelar juara — termasuk dari kategori ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Ubed menjadi satu-satunya peraih gelar di nomor tunggal putra.
Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan bulutangkis Indonesia, terutama dari generasi muda yang mulai meramaikan panggung internasional. Kebangkitan itu juga dinilai jadi modal besar menjelang kejuaraan-kejuaraan berikutnya di kalender dunia.
Makna Kemenangan Bagi Ubed
Gelaran ini bukan sekadar gelar juara biasa. Menang atas wakil tuan rumah di final, sekaligus mematahkan catatan kalah sebelumnya atas lawan yang sama, memberikan arti besar bagi perjalanan karier Ubed. Ia kini tidak hanya dianggap sebagai medali potensial, tetapi juga sebagai pebulutangkis yang memiliki mental juara.
Kemenangan ini membuka pintu baru untuk Ubed agar bisa bersaing di level yang lebih tinggi lagi, termasuk menargetkan gelar di turnamen level Super 500 dan seterusnya.
Kesimpulan:
Dengan kemenangan dramatis 21-19, 20-22, dan 21-19 di Thailand Masters 2026, Mohammad Zaki Ubaidillah menetapkan standar baru untuk dirinya sendiri. Meski sempat berada di bawah tekanan publik lawan, ia tetap menunjukkan ketangguhan mental dan teknik yang matang. Gelar ini juga memperkuat dominasi Indonesia dalam turnamen bulutangkis dunia dan memperkenalkan generasi muda sebagai ancaman serius di pentas internasional.