JAKARTA - Kredit Pemilikan Rumah merupakan salah satu opsi bagi masyarakat untuk mempunyai hunian secara mengangsur.
Namun, permohonan pembiayaan hunian ini tidak selalu dikabulkan oleh pihak perbankan.
Pihak perbankan akan mengevaluasi daya finansial pemohon KPR sebelum memberikan pinjaman.
Profesi serta asal-usul pendapatan menjadi salah satu hal yang dinilai.
Mempunyai gaji tiap bulan belum dapat menjamin seseorang langsung dinilai sanggup membayar angsuran.
Sebab, lembaga keuangan harus memastikan pendapatan itu mencukupi, terbukti, serta sanggup dilunasi hingga tenor usai.
Selain jenis mata pencaharian, perbankan kerap mengecek bukti gaji atau catatan mutasi pada rekening.
Perkara ini penting sebab individu dengan profesi serupa belum tentu berpenghasilan sama.
Pakar Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menyampaikan bahwa profesi tidak menjadi satu-satunya hal penentu diterima atau ditolaknya permohonan KPR.
Daya bayar justru menjadi salah satu poin penilaian utama.
Menurutnya, bukti gaji dapat menjadi tolok ukur perbankan untuk menilai daya bayar calon nasabah.
Kendati demikian, terdapat beberapa variasi profesi yang dinilai memiliki kendala lebih tinggi sewaktu mengajukan KPR akibat pola pendapatannya.
1. Pekerja Informal
Kelompok pekerja informal umumnya tidak memegang bukti gaji tetap, dokumen kontrak kerja, atau berkas penghasilan layaknya pegawai perusahaan.
Contohnya seperti pedagang skala kecil, pemotong rambut, hingga pengemudi transportasi daring.
Sebab pendapatan mereka tidak selalu tercatat pada berkas penghasilan, perbankan memerlukan dokumen lain guna memastikan daya bayar calon debitur.
Walau begitu, bukan berarti pekerja sektor informal tidak bisa memproleh pembiayaan rumah.
Sejumlah perbankan telah menyediakan skema kredit yang sanggup diakses oleh sektor informal.
Langkahnya yaitu melampirkan bukti pendapatan, misalnya rekening koran atau riwayat mutasi dalam beberapa bulan terakhir.
Berkas tersebut membantu pihak bank memantau pola serta besaran penghasilan pemohon.
2. Pekerjaan Berisiko Tinggi
Mata pencaharian dengan tingkat bahaya tinggi turut menjadi perhatian khusus bagi bank.
Sebabnya, risiko musibah atau meninggal dunia yang lebih tinggi sanggup memengaruhi daya bayar angsuran jika terjadi hal buruk pada nasabah.
Arianto sebutkan beberapa profesi yang masuk kelompok itu, seperti pekerja tambang, petugas pemadam kebakaran, serta awak kapal.
"Pekerjaan risiko tinggi di antaranya penambang, petugas damkar (pemadam kebakaran), pelaut, dan lain-lain," ujarnya.
Meski begitu, pemohon dengan pekerjaan bahaya tinggi tetap berpeluang memperoleh fasilitas pembiayaan rumah.
Salah satu bentuk perlindungan yang dapat dipakai yaitu asuransi yang menanggung sisa tunggakan jika debitur tutup usia sesuai isi polis.
Opsi lainnya ialah memilih jangka waktu yang lebih singkat.
Namun, konsekuensinya nilai angsuran bulanan akan menjadi lebih besar.
Arianto menyampaikan calon debitur juga perlu menunjukkan niat baik dalam memenuhi aturan pembiayaan.
"Namun, calon debiturnya sendiri harus mampu menunjukkan itikad baik dalam berbisnis, di antaranya tidak memiliki riwayat kredit (kartu kredit, pembiayaan konsumtif lain atau pembiayaan komersial) yang buruk, mampu memenuhi persyaratan dokumen yang lengkap dan memastikan kemampuan keuangan yang memadai untuk memperoleh fasilitas pembiayaan," jelasnya.