NIlai Tukar Rupiah Menguat Buat Dolar AS Mengalami Penurunan Rp17.570

Kamis, 10 September 2026 | 10:47:18 WIB
Ilustrasi Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Kurs mata uang Garuda mencatatkan penguatan di hadapan dolar Amerika Serikat pada sesi pembukaan pagi.

Berdasarkan data pasar perdagangan, nilai tukar domestik menguat sebesar 0,31 persen menjadi Rp17.570 per dolar AS.

Tren positif ini meneruskan catatan manis pada hari sebelumnya yang sempat berbalik menguat sebesar 0,03 persen di level Rp17.625 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks mata uang Negeri Paman Sam terpantau merangkak naik tipis 0,01 persen menuju ke angka 98,795.

Dinamika pergerakan mata uang lokal terjadi seiring antusiasme pelaku pasar menyambut angka Indeks Keyakinan Konsumen terbaru.

Otoritas moneter dalam negeri dijadwalkan merilis angka indikator tersebut dengan perkiraan kenaikan menuju level 117.

Sebelumnya, tren optimisme masyarakat sempat tertekan selama tiga bulan beruntun hingga ke level paling rendah.

Kondisi merosotnya angka kepercayaan dipicu oleh pandangan publik mengenai iklim ekonomi serta terbatasnya lapangan kerja.

Walau mengalami penurunan, variabel tersebut dinilai masih berada dalam area yang cukup positif bagi perekonomian.

Penguatan indikator ini berpotensi memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus menyuntik daya tahan bagi mata uang nasional.

Namun, penurunan kembali pada variabel tersebut berisiko memicu kecemasan atas daya beli masyarakat secara luas.

Dari pasar internasional, mata uang AS cenderung bergerak mendatar seiring tingginya harga minyak dan imbal hasil obligasi.

Peningkatan imbal hasil surat utang AS tenor sepuluh tahun sanggup menahan ruang gerak bagi apresiasi mata uang lokal.

Akan tetapi, pergerakan greenback terganjal oleh lompatan tajam nilai tukar yen dari Negeri Sakura.

Mata uang Jepang melesat ditopang ekspektasi perubahan kebijakan suku bunga serta kembalinya dana asing.

Penguatan yen ikut mengerem laju indeks mata uang AS mengingat perannya sebagai instrumen penyusun utama.

Selanjutnya, perhatian para pemilik modal tertuju pada rilis angka inflasi terbaru dari Amerika Serikat.

Laporan keuangan itu menjadi acuan krusial menjelang agenda rapat penentuan arah kebijakan suku bunga acuan.

Pasar memproyeksikan adanya kans besar bagi bank sentral global untuk menyesuaikan suku bunga usai rilis data tenaga kerja.

Selain itu, ekskalasi konflik wilayah turut memicu kekhawatiran atas berlanjutnya tekanan inflasi komoditas minyak mentah.

Potensi tingginya inflasi global menjadi ancaman tersendiri bagi pergerakan mata uang rupiah pada masa mendatang.

Terkini

Dody Hanggodo: Masyarakat Butuh Infrastruktur, Bukan Wacana

Jumat, 11 September 2026 | 13:55:18 WIB

Mengamankan Data Pribadi di HP dari Kejahatan Siber Terampuh

Kamis, 10 September 2026 | 11:26:17 WIB

Bahaya Gunakan Wi-Fi Publik Tanpa VPN pada Smartphone

Kamis, 10 September 2026 | 11:20:35 WIB

Panduan Aktivasi Otentikasi Dua Faktor Terlengkap 2026

Kamis, 10 September 2026 | 11:18:01 WIB

Tips Memilih Antivirus Android Terbaik 2026 Terlengkap

Kamis, 10 September 2026 | 11:15:01 WIB