Tekanan Global Picu Pelemahan Serentak Mata Uang di Asia

Rabu, 02 September 2026 | 13:05:00 WIB
KOMPAK MELEMAH. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Berbagai mata uang kawasan Asia pada hari ini bersama-sama melemah termasuk rupiah terhadap dolar AS dengan penurunan terdalam dialami oleh Peso Filipina, Rabu, 2 September 2026.

Pelemahan ini timbul di tengah aksi pelepasan surat utang pasar obligasi global serta lonjakan harga minyak seusai Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

Sentimen pasar terhadap instrumen berisiko di teritorial Asia kian tertekan setelah tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS menanjak ke rekor tertinggi dalam beberapa tahun.

Pada saat bersamaan, harga minyak mentah menembus ambang 95 dolar AS per barel seusai Washington melancarkan operasi terbarunya ke Iran.

Indeks mata uang negara berkembang global MSCI menyusut 0,2 persen.

Jika tren tersebut bertahan, indeks bakal mencatatkan performa harian terburuk dalam sebulan sekaligus menghentikan tren penguatan selama 10 sesi berturut-turut.

Peso Filipina tampil sebagai valuta yang paling terpuruk.

Peso menyentuh level terendah baru di posisi 62,652 per dolar AS.

Tekanan terhadap peso utamanya berasal dari eskalasi harga minyak serta kekhawatiran atas kondisi eksternal Filipina.

Pakar dari Sumbernya menilai, peso masih berisiko terus tertekan disebabkan posisi eksternal yang kurang ideal serta tingkat suku bunga riil yang rendah.

“Harga minyak yang tinggi dan prospek peningkatan impor barang modal kemungkinan akan membebani mata uang,” kata analis Maybank dikutip Reuters.

Di samping itu, arus pengiriman uang atau remitansi dari tenaga kerja Filipina di luar negeri pun dinilai memberikan sokongan yang kian terbatas.

Laju pertumbuhan remitansi dari beberapa negara sumber utama seperti AS dan kawasan Timur Tengah tampak moderat atau mulai menunjukkan indikasi perlambatan.

Bursa saham Filipina turut terseret dampak tekanan tersebut dengan indeks sahamnya tergerus sekitar 1 persen.

Tekanan itu pun merembet ke sejumlah mata uang Asia lain.

Rupiah Indonesia bersama dolar Taiwan masing-masing terdepresiasi sekira 0,3 persen.

Baht Thailand pun turun 0,1 persen seusai sebelumnya menyentuh titik terlemah sejak permulaan Agustus.

Kenaikan tingkat imbal hasil obligasi AS turut mendorong para investor mengurangi porsi kepemilikan pada aset negara berkembang.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menanjak ke level puncak dalam hampir tiga tahun.

Sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor lima tahun mencatatkan rekor di angka 2,295 persen.

Pada segmen obligasi negara berkembang, harga obligasi tenor 10 tahun Indonesia dan Filipina masing-masing telah amblas 7,6 persen serta 23,6 persen sepanjang tahun berjalan merujuk data LSEG.

Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun melonjak 23,9 basis poin ke posisi 7,229 persen.

Besaran kenaikan imbal hasil tersebut merefleksikan semakin kuatnya tekanan yang mendera pasar instrumen utang di tengah lonjakan harga energi serta ekspektasi suku bunga global yang tinggi.

Tags

Terkini