Pasar Asia Bervariasi Lawan AS: Ringgit Naik Namun Rupiah Terpuruk

Rabu, 02 September 2026 | 13:04:59 WIB
Ilustrasi Rupiah dan US dolar (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan mata uang kawasan Asia bergerak tidak serempak saat berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS) pada transaksi Senin (31/8/2026).

Menilik data Refinitiv pada jam 09.17 WIB, dari sembilan mata uang kawasan Asia yang diamati, sebanyak lima mata uang mengalami apresiasi terhadap dolar AS.

Sementara empat mata uang lainnya mengalami pelemahan.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang yang mencatatkan lompatan penguatan paling tinggi di Asia pagi ini.

Ringgit menanjak 0,20% menuju posisi MYR 4,022/US$.

Yen Jepang menyusul di belakangnya melalui penguatan 0,16% pada posisi JPY 159,77/US$.

Won Korea Selatan ikut menguat 0,12% menuju KRW 1.374,87/US$.

Dolar Singapura turut melaju positif lewat lonjakan 0,09% ke SGD 1,273/US$, sementara yuan China naik 0,06% pada posisi CNY 6,722/US$.

Di sisi lain, rupiah menjadi mata uang dengan tingkat koreksi paling dalam di Asia pagi ini.

Mata uang Garuda tergerus 0,34% menuju posisi Rp17.745/US$.

Peso Filipina serta baht Thailand sama-sama melemah 0,09%, masing-masing pada posisi PHP 62,281/US$ dan THB 33,15/US$.

Dolar Taiwan ikut menyusut 0,04% menuju TWD 31,645/US$.

Laju mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi dinamika dolar AS.

Indeks dolar AS (DXY) pada jam 09.20 WIB tercatat menyusut 0,12% menuju posisi 99,581.

Meski demikian, penurunan DXY pagi ini terjadi usai pada sesi transaksi Jumat dolar AS melonjak cukup tinggi.

DXY sebelumnya ditutup naik 0,55%, seiring penyampaian dari sumbernya pada pertemuan Jackson Hole.

Penguatan dolar AS di akhir pekan kemarin menyebabkan sebagian mata uang Asia masih terlihat tertekan pada pergerakan pagi ini.

Sejumlah mata uang baru merespons kenaikan greenback tersebut usai memasuki sesi transaksi hari ini, termasuk rupiah.

Dolar AS menguat pada Jumat pasca dari sumbernya memberikan petunjuk bahwasanya penyesuaian suku bunga masih berpotensi diperlukan seandainya The Fed menilai laju inflasi belum mengarah ke sasaran 2%.

Pada pidato perdananya di forum Jackson Hole, dari sumbernya menuturkan The Fed masih mempunyai pekerjaan yang mesti diselesaikan apabila inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Keterangan tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga AS.

Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed paling tidak 25 basis poin pada agenda rapat September melonjak menjadi 57,5% usai pernyataan dari sumbernya.

Sebelumnya, peluang tersebut berada pada kisaran 35% sebelum pidato itu disampaikan.

Dari sumbernya mengamati pasar masih akan memperhatikan apakah The Fed benar-benar bakal menindaklanjuti sinyal tersebut.

“Jika The Fed tidak menindaklanjutinya lagi, saya tidak ingin terlalu dramatis dengan mengatakan kredibilitasnya terkikis, tetapi menurut saya cara yang lebih tepat adalah pasar akan melihat komentarnya ke depan dengan sangat hati-hati,” kata dari sumbernya.

Dolar AS turut membukukan penguatan mingguan.

Greenback melonjak hampir 0,9% dalam seminggu serta berada di rute kenaikan mingguan terbesar dalam jangka 10 pekan.

 

Tags

Terkini