Menteri Urusan Daerah Seberang Lautan van Mook turut mengajukan gagasan relasi yang lebih setara di antara wilayah jajahan, termasuk Nusantara, bersama pihak Belanda.
Kelak, setiap teritori jajahan bakal mempunyai kementerian serta parlemen masing-masing.
Namun, Soejono menilai konsep pemikiran tersebut masih belum memadai.
“Untuk Soejono, itu saja tidak cukup.
Menurutnya, Indonesia harus merdeka sepenuhnya,” ungkap Martin Bossenbroek dalam Pembalasan Dendam Diponegoro (2023).
Tuntutan tegas tersebut ternyata tidak mendapat respons positif dari Gerbrandy beserta jajaran menteri kabinet lainnya.
Mereka menilai desakan Soejono sudah melampaui batas wajar.
Beliau bahkan mengulang-ngulang gagasan tersebut sampai beberapa kali, namun tetap saja diacuhkan begitu saja.
Soejono pun enggan mengambil opsi mundur dari jabatannya.
Beliau terus kukuh mempertahankan posisi tersebut seraya menyuarakan kepentingan tanah air.
Akan tetapi, perjuangan politik beliau tidak berumur panjang.
Soejono kemudian terisolasi di London dan mengembuskan napas terakhirnya pada tanggal 5 Januari 1943.
Nama besar beliau tetap abadi di dalam lembaran sejarah sebagai manusia Indonesia perdana yang sukses menduduki kursi pemerintahan negeri Belanda.