Bank Indonesia Diperkirakan Pertahankan BI Rate 5,75 Persen Pekan Ini

Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:51:58 WIB
Bank Indonesia Diperkirakan Pertahankan BI Rate 5,75 Persen (FOTO: NET)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi tetap mempertahankan suku bunga acuan BI Rate pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pada 18-19 Agustus 2026.

"Untuk RDG pekan depan, base case kami BI masih akan menahan BI Rate di 5,75%," ujar Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz dari Sumbernya, Senin (17/8/2026).

Berdasarkan penuturan Irman, apresiasi nilai tukar rupiah dalam kurun waktu terakhir beserta membaiknya data makroekonomi global menjadikan BI tidak perlu tergesa-gesa menaikkan tingkat suku bunganya.

Guna diketahui, mata uang rupiah pada pasar spot hari Senin (17/8/2026) ditutup menguat pada level Rp 17.798 per dolar Amerika Serikat (AS).

Jika disandingkan dengan penutupan hari Jumat (14/8/2026) pada level Rp 17.827 per dolar AS, nilai mata uang rupiah mengalami penguatan 0,16%.

Di samping itu, tingkat inflasi Amerika Serikat (AS) beserta data pasar tenaga kerja yang melemah membuat laju penguatan dolar AS tertahan.

Sesuai penjelasan Irman, kondisi ini memberikan ruang bagi BI guna menjaga tingkat suku bunga selama tekanan terhadap rupiah tetap dapat dikelola lewat tindakan intervensi dan instrumen stabilisasi lainnya.

Kendati demikian, Irman mencermati arah kebijakan BI masih cenderung hawkish.

Maka dari itu Ia mengestimasi BI masih membuka peluang kenaikan suku bunga di paruh kedua 2026 jika tekanan terhadap mata uang rupiah kembali melonjak.

"Kami masih melihat ruang kenaikan suku bunga di paruh dua 2026 ini apabila tekanan rupiah kembali meningkat, dengan terminal rate kami di 6,25% pada akhir tahun," katanya.

Irman menganggap pertimbangan BI saat menentukan kebijakan pada RDG Agustus ini juga bakal memperhitungkan kondisi pertumbuhan ekonomi beserta likuiditas dalam negeri.

Oleh sebab itu, BI diproyeksikan bakal lebih memprioritaskan kebijakan non suku bunga demi menjaga stabilitas mata uang rupiah.

"Dari sisi domestik, inflasi masih relatif manageable dan pertumbuhan serta konsumsi mulai menunjukkan moderasi, sehingga belum ada urgensi menaikkan suku bunga dari sisi demand pressure," jelasnya.

Menurut pandangannya, faktor risiko terbesar justru timbul dari sisi eksternal, seperti arah suku bunga AS maupun imbal hasil US Treasury, pergerakan dolar AS, harga komoditas minyak, hingga keberlanjutan aliran modal asing.

Sepanjang tekanan terhadap rupiah tetap dapat diredam tanpa perlu menaikkan suku bunga acuan, BI dinilai masih mempunyai dasar alasan guna mempertahankan BI Rate.

"Rate hike akan menjadi opsi ketika tekanan FX mulai lebih persisten dan berpotensi mengganggu ekspektasi inflasi maupun stabilitas pasar," ujar Irman.

Lebih jauh Irman berpendapat, BI perlu memadukan strategi suku bunga dengan langkah intervensi yang terukur dan pendalaman pasar valuta asing (valas).

Menurut penjelasannya intervensi lewat pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN) dinilai tetap krusial guna meredam pergerakan volatilitas rupiah.

Tetapi, langkah tersebut mesti didampingi dengan penguatan underlying transaksi valas, instrumen lindung nilai (hedging) yang lebih kompetitif, serta menjaga daya tarik aset rupiah bagi para investor asing.

"Stabilitas rupiah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi saja, konsistensi bauran kebijakan dan kredibilitas BI tetap menjadi jangkar utama," katanya.

Mengenai prospek ke depan, Irman masih mencermati rupiah berpotensi menghadapi tekanan beserta volatilitas pada kuartal III-2026 lantaran ketidakpastian kondisi geopolitik dan arah kebijakan The Fed.

"Base case kami nilai tukar rupiah bergerak (kuartal III) di rata-rata Rp 18.130 per dolar AS sebelum menguat pada kuartal IV ke arah Rp 17.900-an," ujar Irman.

Pihaknya melihat di kuartal IV ketegangan geopolitik bakal mereda, sehingga memberikan dorongan positif bagi EM currencies termasuk nilai tukar rupiah.

Tags

Terkini